Lost Heaven

Cerita ini hanya fiktif belaka. Apabila ada kesamaan tokoh, karakter, alur, tempat dan lain sebagainya itu merupakan sebuah kebetulan belaka tanpa ada maksud/tujuan tertentu.

.

Enjoy

.

kaki Yuna berjalan dengan gontai menuju rumahnya. Ia menghela nafas sejenak. Segan rasanya pulang ke rumah sendiri. Yang ada di sana, hanya akan terdengar teriakan kesakitan ibunya, tamparan kasar oleh sang ayah, tangisan meminta ampun dari sang ibu, dan makian kotor nan kasar dari sang ayah. Semua menjadi satu dan dikendalikan oleh amarah dan egoisnya suatu manusia. Sedangkan Yuna dan sang kakak, Kei hanya dapat mengurung diri di kamar sambil mendengar bahkan menyaksikan itu semua dengan mata kepala mereka sendiri. Yuna bertanya, kapan dia akan mati? tapi, apakah mati bisa menyelesaikan masalah? Yuna sama sekali tidak ambil pusing soal itu. Bahkan dia sama sekali tidak pernah memikirkan dan mau membayangkannya.

Suara derit pagar berkarat membuyarkan lamunan Yuna. Kakinya berhenti di depan rumah mungil dengan taman kecil yang indah. Memang terlihat sangat biasa. Tapi dulu, sebelum ayahnya menuduh ibunya berselingkuh dan memulai perkara ini? Rumah mungil itu sangatlah hangat. Terlalu banyak cinta hingga Yuna tidak akan pernah berharap untuk mati saat itu. Tapi, kini jalan pikirnya sudah berubah. kematian adalah hal yang sangat ia tunggu. kenapa tidak bunuh diri saja? Pertanyaan itu pernah terlintas di benak Yuna. Tapi, sebuah bisikan menghapuskan niatnya. ‘Jika kau bunuh diri dan mati, bukankah kau jadi terlihat rendahan di mata mereka? Dimata Tuhan?’. entah siapa yang berbisik itu? Yuna tidak mengubrisnya.

Saat ingin mengambil langkah masuk kedalam zona kehidupan barunya yang kelam, panggilan lembut seseorang membuyarkan lamunannya. “Yuna?” Yuna menoleh, mendapati sang kakak menatapnya dengan khawatir, dan berdiri tidak jauh dari tempat dia berdiri saat ini. “Kakak,” hanya itu yang bisa disuarakan oleh Yuna. Kei mendekatinya dan mengajaknya untuk masuk. Dari dalam rumah, sudah terdengar suara teriakan ibu dan makian dari ayah. Kei menggeram dengan jijik, sembari tetap memegang dengan lembut tangan Yuna. Sedangkan Yuna sendiri, tidak berekspresi apa-apa.

“Ayah, berapa kali ibu katakan. Ibu sama sekali tidak berselingkuh. Dia hanya teman kuliah ibu. Percayalah ayah !” sanggah ibu sambil terisak. Yuna dan Kei masuk kedalam rumah. Pandangan kedua orang tuanya tertuju pada mereka. Sang ibu langsung menghampiri sambil mengusap pipinya yang basah olah air mata.

“Kalian sudah pulang. Lebih baik cepat mandi dan ganti baju, lalu makan siang”. Ujar ibunya sambil tersenyum. Kei memalingkan wajahnya dengan ekspresi tertekan, dan ibunya menyadari akan hal itu. Sedangkan Yuna, dengan wajah polosnya tetap memandang wajah sang ibu tanpa berkedip lalu berkata, “ibu menangis?” Pertanyaan yang memang semestinya di lontarkan anak kelas 2 SD. Ibunya tersenyum lembut, sambil menarik bahu Yuna agar mendekat kepadanya.

“Tidak. Tadi ada debu yang masuk ke mata ibu. Jadi ibu kelilipan. Bukan berarti ibu menangis kok, sayang.” Sanggah sang ibu cepat. Yuna tersenyum. Dengan cepat Kei menarik Yuna dari ibunya dan membawanya ke lantai dua. Kamar mereka.

Tinggalah sang ibu dengan sang ayah yang masih menunduk ke arah lantai, “kau boleh marah padaku, tapi jangan libatkan anak-anak dalam masalah sepele seperti ini,” ucap sang ibu pelan, sang ayah mendongkak dengan pandangan wajah menahan jijik. Sang ibu tersenyum kecut, “lebih baik kita akhiri saja semua ini, jika memang itu maumu,” ucap sang ibu tanpa intonasi dan kembali ke dapur, membiarkan sang ayah yang terpuruk seorang diri.

Di lantai dua, Kei sibuk memasangkan dress cokelat pastel pada adiknya. Yuna diam tak bergerak. Dress itu hadiah ulang tahun-nya dua bulan yang lalu. Yang ia dapat dari sang kakak. Kakaknya rela kerja part time hanya untuk membelikannya hadiah dari hasil jerih payahnya sendiri. Sungguh bahagia hatinya.

“Kakak, tadi ibu dan ayah kenapa?” Tanya Yuna dengan mata sayu. Kei yang mendengar pertanyaan itu, serasa ada dentuman keras di dadanya. Air matanya ingin menetes, tapi perasaan egoisnya melarang itu terjadi.

Kei mengancingkan kancing terakhir di bagian kerah dress Yuna. Dia menatap Yuna dalam, sambil tersenyum. “Hahaha, tidak apa-apa. Yuna tidak perlu mempermasalahkan itu. Okay?” Yuna menatap kakaknya sendu. Dengan seulas senyum polos terukir di wajahnya.

Kei tersenyum, mengelus kepala Yuna lembut, “okay, ayo kita ke bawah sekarang. Kau pasti sudah lapar,” Yuna mengangguk antusias. Dengan manja ia bergelayut di tangan Kei.

Di ruang makan, hanya ada ibunya yang bertopang dagu disana. Pandangannya mengarah ke mereka, tapi … pikirannya tidak.

“Ibu,” panggilan lembut Yuna membuyarkan lamunan ibunya. Dia tersentak, menatap kedua anaknya yang juga menatap balik kearahnya.

“Kalian sudah selesai, kalau begitu ayo kita makan,” panggil sang ibu. Kei menggeser kursi agar mempermudah Yuna untuk duduk. Ibunya mengambilkan nasi ke piring mereka. Kei melihat kearah ibunya. Ibunya tampak kacau sekali. Matanya yang hitam kelam, kini tidak memiliki cahayanya lagi. Bahkan Kei sempat ragu, apakah bayangannya masih terlihat di mata ibunya. Lalu, Kulitnya memucat. Bawah matanya menghitam. Kei miris melihatnya. Padahal, ibunya masih sangat muda. Tapi, keadaannya berbalik dengan umurnya.

Kei dan sang ibu sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga pertanyaan dari Yuna membuat mereka berdua tersentak, “ibu, dimana ayah?” Mata sang ibu melebar. Sama halnya dengan Mata Kei. Ibunya menatap Kearah Kei, yang sepertinya acuh tak acuh. Kei sadar kalau ibunya melirik ke arahnya. Tapi malas baginya untuk membalas tatapan itu. Tatapan putus asa yang ia benci.

Ibunya tersenyum, “ayah bilang dia harus kembali ke kantor. Masih ada pekerjaan yang belum dia selesaikan”. Yuna tidak bergeming, dan melanjutkan makannya. Ibunya tersenyum kecut. Kei pun sama sekali tidak bergeming mendengarnya. Ia tahu, itu adalah perkataan bohong. Dan sayangnya, Yuna pun mengetahui hal yang sama.

Seusai makan siang itu, Kei ambil giliran mencuci piring kotor. Kei mencuci piring itu dengan santai. Wajahnya tak berekspresi, sampai seseorang memegang bahunya, Kei tersentak. “Kei…” bisik sang ibu. Kei tidak bergeming dan tetap terus mencuci. Ibunya mendesah putus asa. Namun, walau seperti itu sang ibu tetap melanjutkan perkataannya, “setelah mencuci piring, tolong datang ke kamar ibu?” Kei hanya mengangguk, tanpa menyuarakan apapun sama sekali.

Kei membersihkan tanggannya dari busa, lalu mengeringkannya. Pikirannya sekarang tertuju pada Yuna. Sebentar, sebelum ia pergi kekamar ibunya, terlebih dahulu ia ke kamar sang adik. Melihat, apakah dia sudah tidur atau belum. Kei menaiki anak tangga kayu itu dengan langkah ringan, agar tidak terdengar oleh ibunya. Di kamar, Kei membuka pintu tanpa bersuara dan melihat sang adik tertidur pulas. Ia menghela nafas tenang, lalu menutup pintu itu dalam diam.

Kini kei berdiri di depan kamar ibunya. Masih berdiri, tanpa melakukan apa-apa. Butuh persiapan baginya untuk bertatap muka dengan sang ibu. Berdua. “Kei, masuklah!” Kei tersentak, matanya melebar. Ibunya tahu kalau dia ada di luar, tanpa suara. Dengan santai, Kei pun masuk ke dalam. Di dalam sudah ada sang ibu yang duduk di pinggiran tempat tidur sambil tersenyum padanya. Kei menutup pintu, dan mendekati ibunya. “Duduklah!” perintah sang ibu. Kei mengikuti.

“Ibu mau bilang apa? lebih baik cepat, karena kei masih punya tugas yang belum di selesaikan”. Ucapnya dingin, dan sekali lagi ibunya hanya tersenyum. “Ibu akan bercerai dengan ayahmu,” seperti sebuah tusukan pedang, begitu menancap terasa di dada Kei. Dia tahu, hari ini pasti akan datang. Tapi, Kei tetap memasang wajah datarnya. “Hanya itu?” Tanya Kei, membuat ibunya menatapnya penuh kesedihan.

Tangan ibunya terulur, menyentuhkan tangan dinginnya ke tangan hangat Kei. “Ibu punya satu pesan, berjanjilah jika ibu tidak ada, kau harus tetap bersama Yuna. Kau harus menyayanginya, melindunginya. Anggap dia adalah harta satu-satunya yang kau miliki. Okay?” Kei menatap ibunya penuh tanda Tanya. Seperti kata-kata terakhir saja? Apa itu artinya hak asuh akan jatuh ke tangan sang ayah? Atau mungkin, sesuatu yang lebih dari itu akan terjadi? Sesuatu yang mungkin bisa mengoyakkan batinnya. Kei tidak memikirkannya. Sekarang yang ada di pikirannya, adalah Yuna.

“Baiklah, kalau memang itu permintaan ibu,” jawabnya. Ibunya semakin erat menggengam tangan hangat Kei. Sebelum akhirnya memeluknya tanpa di balas oleh Kei. Kei kini sama sekali kalut. Bingung dengan perasaannya sendiri.

Tanpa mereka tahu, anak kecil berambut panjang lurus berwarna cokelat, mendengar semua pembicaraan mereka tanpa ada satupun yang tertinggal.

Esok harinya, sang ibu sudah ada di ruang makan saat Kei dan Yuna turun dari lantai dua. “Selamat Pagi,” sapa sang ibu. Kei menjawab dengan anggukan, sedangkan Yuna tidak bergeming sama sekali. Ibunya menatap lesu kearah Yuna. Makan pagi itu pun dilaksanakan bertiga. Tanpa adanya sang ayah. Suasana pun dingin. Tidak ada lagi pertanyaan Yuna yang selalu menanyakan ayahnya. Hingga keheningan itu, di kejutkan oleh sikap Yuna sendiri. “Yuna sudah selesai,” ucapnya dengan ekspresi datar. Dengan cepat ia pergi ke luar tanpa mengubris kakak dan ibunya. Kei tersentak dan cepat-cepat menghabiskan sarapannya, lalu pergi menyusul Yuna. Meninggalkan sang ibu seorang diri yang menatap mereka kepergian mereka dengan keputus asaan.

TENG TENG TENG…

Bel pulang sekolah berbunyi. Di sertai tawa dan teriakan girang seluruh penghuni sekolah. Yuna melangkahkan kakinya dengan malas keluar dari kelasnya. Seseorang menyapanya, dan Yuna menoleh, “kenapa lemas seperti itu, Yuna?” Yuna memandangnya sayu, seraya menjawab, “tidak apa-apa”.

Yuna pun pergi meninggalkan anak tadi, dan keluar dari pekarangan sekolahnya menuju rumah. Baru setengah perjalanan, Yuna menoleh kesebelah kirinya. Ada sebuah taman dengan kursi kayu panjang di tengahnya. Iya tersenyum. Sepertinya tertarik untuk beristirahat disana ketimbang pulang lebih cepat kerumahnya.

Seperti ditarik, ia berjalan dengan santai ke bangku itu. Duduk dengan nyamannya. Matanya menatap kosong ke seisi jalan yang ia lalui tadi. Tapi, tidak ada yang lewat. Angin sepoi-sepoi mengusap pipinya lembut. Matanya kian lama mulai tertutup, menikmati kelembutan yang ditawarkan oleh si angin. Hingga akhirnya ia tertidur.

“HAAH! IBU….!” Teriak Yuna bangun dari tidurnya. Wajahnya pucat. Badannya bergetar hebat. Keringat mengalir di keningnya. nafasnya berderu dengan cepat. Dan jantungnya memompa darah lebih cepat dari biasanya.

“Tidak mungkin,” ucapnya dengan bibir bergetar. Seulas senyum kecut terukir di bibir kecilnya. Kemudian, bibir kecil itu tertawa perlahan dengan mata yang berair, “itu hanya mimpi…kau jangan takut, Yuna”. Dengan cepat Yuna mengusap air matanya, sekilas melirik ke jam tangannya. Sekarang tepat pukul lima sore. Ternyata ia tertidur cukup lama. Ia berpikir, pasti pulang-pulang nanti ia akan dimarahi ibu dan ayahnya.

Dengan gerakan cepat, Yuna segera beranjak dari bangku itu dan meninggalkan taman.

Dengan langkah ringan dan senyum yang tidak terlalu berlebihan, Yuna berjalan mengarungi jalanan komplek rumahnya dengan santai. Sampai, suara orang yang sedang membacakan doa, terdengar oleh Yuna. Ia memandangi dari ke jauhan tempat yang ramai itu. Awalnya matanya menyipit, setelah itu matanya melebar saat dia tahu itu adalah rumahnya.

“I-ibu…” kata itu yang pertama keluar dari bibirnya. Ia lekas berlari kecil, menuju kerumunan itu. Matanya mencari-cari sang kakak dan sang ayah. Tapi, tak ia temukan. Sampai sebuah tangan dengan lembut menyentuh pundaknya, “Yuna, kamu sedang dicari oleh Kei didalam,” ucap wanita paruh baya itu dengan lembut. Matanya menyiratkan kesedihan. Yuna kenal dengannya. Dia Tante Ui, tetangga sebelahnya. Dengan cepat Yuna berlari ke dalam rumah. Hingga, langkahnya terhenti saat di pintu utama, matanya membulat bibirnya bergetar. Ibunya sudah meninggal. jasadnya tepat dihadapannya. Sang Ayah dan kakaknya Kei menatapnya kaget, dengan cepat Kei menghampiri Yuna. Memeluknya erat sambil menangis. Sedangkan Yuna, wajahnya datar. Menangispun tidak. Dan kemudian, acara pemakaman itu berjalan dengan semestinya. Tanpa ada keraguan, penyesalan, dan kesedihan dari diri Yuna.

Setahun setelah kematian Ibunya, Yuna menjadi anak yang lebih pendiam dan penyendiri. Atau lebih tepatnya anti-sosial. Kei dan Yuna sekarang tinggal bersama ayahnya yang memiliki istri baru. Dengan sikap Yuna yang seperti itu, banyak yang mencapnya ‘Anak gila’ atau ‘Anak sinting’ bahkan ‘Autis’. Tapi, Yuna sama sekali tidak mengubris itu. Malah, Kei yang heboh saat semua orang mengejek adik tersayangnya seperti itu.

Saat Yuna berjalan dengan santai melewati taman dekat rumahnya. Padahal, taman itu adalah tempat terakhir yang ia kunjungi sebelum kematian ibunya. Tapi, Yuna sama sekali tidak menganggap itu adalah suatu masalah. Ia mendengar anak-anak sebayanya yang bermain di taman itu, saling berbisik satu sama lain. Yuna tahu yang mereka perbincangkan adalah dirinya. Tapi, Yuna sama sekali tidak memperdulikannya.

“Hei, kau tahu? Diakan anak autis yang tinggal di sebelah rumahmu, Rey?” Ucap salah satu bocah laki-laki. Bocah laki-laki lain yang dipanggil Rey itu mengangguk. Ia menjawab, “aku dengar dari ibuku dia gila karena kehilangan ibunya? malang sekali yah. Padahal dia masih kecil. Tapi sudah di tinggal ibunya. Tragis.” Mereka semua mengangguk. Anak yang lain menambahkan, “bahkan, saat ibunya meninggalpun dia tidak memangis sama sekali. Anak itu benar-benar sakit.” Dan semuanya tertawa.

Dari kejauhan, Yuna bisa mendengar itu. Ia tersenyum aneh. Wajahnya menyeramkan, “mereka itu bodoh atau apa, eh?” ia berhenti sejenak sambil terkekeh, “mereka bilang ibuku mati? mereka itu memang benar-benar sinting,” ucapnya cuek sambil kembali berjalan. Senyum di wajahnya semakin melebar, lalu ia kembali terkekeh, “bukankah ibuku ada di sini, bersamaku? Benarkan ibu?” Ia melirik kesebelah kanannya, tidak ada apa-apa disana. Ia lalu tersenyum lalu kembali berjalan, “dasar anak-anak rendahan,” bisiknya sambil berlalu. Di belakangnya wanita cantik berpakaian putih tersenyum sambil berkata, “ibu akan selalu di samping Yuna. Sampai akhir.”. Wanita itu tersenyum, dan dibalas senyum oleh Yuna. “Itu sudah seharusnya,” dan dengan tertawa riang ia kembali kerumahnya. Bersama sang ibu tercinta.

.

fin

.

Oke, ini cerita labil yang saya buat waktu kelas 2 smp haha. Saya sadar ternyata sudah sejak dulu saya suka heavy!dark theme-__- ini hanya untuk have fun tidak ada maksud tertentu fufufu~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s