SENJA

Cerita ini hanya fiktif belaka. Apabila ada kesamaan tokoh, karakter, alur, tempat dan lain sebagainya itu merupakan sebuah kebetulan belaka tanpa ada maksud/tujuan tertentu.

.

Enjoy

.

“Aku suka padamu.”

“Huh?”

“Aku sudah lama suka padamu. Tepat saat pertama kali kau mengucapkan janji siswa di tahun pertama kita.”

“Ah, uhm… jadi?”

“Jadi? Ja-jadi, kau mau menerimaku?”

“Em, maaf. Aku tidak tertarik padamu. Mungkin kau bisa cari orang yang lebih baik dari pada aku.”

“Ah, oh, be-begitu. Baiklah. Haha.”

“Maaf sekali.” Dia pun pergi dari atap gedung sekolah, meninggalkan gadis yang patah hati itu seorang diri.

Gadis itu hanya mendesah. Awalnya menunduk kemudian  ia palingkan wajahnya ke langit merah di angkasa. Sore ini indah, tidak cocok dengan suasana hatinya tapi baik juga untuk menghibur dirinya. Angin lembut membelai dasi, rok selutut dan rambut kucir kudanya.

“Huh, memang tidak bisa ya? Haha.” Ia hanya bisa tertawa kemudian melangkah menuju dinding pembatas yang tingginya hanya sepinggang dan kemudian duduk di atasnya.

“Mungkin ini yang tebaik―” Dia tersenyum dan kemudian bernyanyi.

Fell because of grief, mourn

…is never suit us well, dear

I’m all alone, after all

“―dan yang terakhir.”

#

TAP TAP TAP TAP TAP TAP

BRAAK!

“Azura!” teriak seseorang sambil menbuka pintu dengan kasar. Peluhnya berjatuhan dan deru nafasnya memburu.

Gadis yang dipanggil Azura berbalik, senyum malas ia ulaskan, “hei Rei,” sapanya. Reina memandangnya kaget, anak itu tampak baik-baik saja―dimatanya. Ia bejalan mendekati dinding pembatas dan ikut duduk di sebelah Azura.

“Bagaimana?” Tanyanya setengah antusias.

“Hm, dia menolakku,” ujar Azura tanpa basa basi. Reina hanya bisa tersenyum dan menepuk pelan kepalanya.

“Sudahlah, mungkin dia bukan yang terbaik untukmu.” Azura kemudian  tersenyum.

“Sakit juga sih mengingat aku sudah punya perasaan padanya selama tiga tahun.” Reina hanya bisa angkat bahu dengan wajah yah-mau-apa-lagi dan kemudian keduanya tertawa.

“Dimana Brian?” Azura bertanya, Reina menggeleng.

“Entahlah, mungkin sedang ada urusan dengan guru,” jawabnya asal. Tidak asal juga sih, soalnya tadi Reina melihat sendiri Brian sedang bersama wali kelasnya.

Azura beroh kecil dan kembali melihat hamparan merah jingga di hadapannya sembari menggoyangkan kaki panjangnya ke depan dan ke belakang.

BRAK

Pintu kembali dibuka dengan kasar untuk kedua kalinya. Kedua gadis itu menoleh ke belakang dan mendapati sang sahabat lelaki tersayang menghampiri mereka dengan senyum lelah. Ia bergumam tak jelas lalu mengambil tempat di sebelah Azura.

“Kau kenapa? Keringatan sekali?” Reina buka suara, Azura hanya menggangguk setuju.

“Tadi wali kelasku sibuk memberiku tugas ini-itu,” keluhnya. Kedua sahabatnya hanya bisa menertawai kesengsaraannya.

“Dari pada kalian menertawaiku lebih baik kalian cerita bagaimana hasilnya? Ditolak?” ujarnya to the point. Reina memukul keras kepala Brian atas ucapannya yang tak pikir panjang itu. Azura hanya bisa tertawa pelan.

“Kalau ngomong hati-hati dong? Walaupun kenyataannya memang seperti itu, tapi lihat-lihat dong situasinya.” Reina berkoar-koar menanggapi kebodohan sahabat lelakinya. Brian menatap Azura setengah tak percaya.

“Tapi kau tidak sedih? Kau tidak menangis?” Azura tertawa. “Inginnya seperti itu, tapi tidak bisa.”

Brian tidak bisa menahan diri untuk tidak memukul dan mengelus kepala Azura dengan sayang. “Haha, ini Azuraku. Azura yang kuat dan ceria. Aku tahu sebenarnya kau sangat sakit hati, tapi caramu menanggapi perasaan itu membuatku kagum.” Azura hanya tersenyum, begitupun Reina.

“Iya, untuk apa laki-laki tidak jelas seperti Dave, kau masih punya kami,” ujar Reina bangga. Brian menggangguk setuju.

“Yah, kami sahabatmu, temanmu, musuhmu, kakakmu, adikmu dan juga kekasihmu,” tambah Brian. Azura tertawa keras kemudian merangkul kedua sahabat tercintanya.

“Yah, kalian adalah segalanya untukku. Terima kasih.”

Tiba-tiba Brian melantukan sebuah lagu. Azura dan Reina saling pandang kemudian tertawa dan memutuskan mengikuti alunan lagu dari Brian.

This is the day, the day that I kiss your cold cheek

The day that the death is too kind to separate us

And too mischief to slow me down

Is there someway for me

To confess?

Between flesh and bones

Between tongue and theeths

Between shore and sea

Locking dead in

Away, away from home

Brian mengeratkan rangkulannya ke tubuh Azura dan berbisik―bisikan yang sebisa mungkin tidak terdengar oleh Azura, “kau sahabatku, tak akan kubiarkan siapapun menyakitimu, itu janjiku.” Azura menoleh kearahnya, merasa Brian baru saja membisikkan sesuatu padanya. Tapi Brian hanya tersenyum, tidak berkata. Keduanya kembali larut dalam lantunan melodi.

Fell because of grief, mourn

…is never suit us well, dear

I’m all alone, after all

Lantunan nada itu terus mengalir seiring dengan suara ambulance dan teriakan banyak orang di bawah mereka yang semakin membahana.

Hari itu juga adalah hari terakhir Azura untuk merasakan cinta dan hari terakhir pula untuk Dave merasakan hidup.

.

fin

.

 

How is it? Sounds creepy? It’s just a story, don’t take it so seriously haha *slaped*

Setelah semua tuntutan sekolah terlaksana, dari UTS, Ujian Semester dan Ujian Nasional (UN) akhirnya saya berkesempatan untuk nge-blog lagi. Kalau di ingat-ingat saya nge-post selalu saat liburan sekolah, jadinya jarak antara post satu dengan yang selanjutnya jauh banget-__-. Sekarang saya mau nge-post sebuat cerita pendek yang sebenarnya udah saya buat beberapa bulan yang lalu dalam waktu yang singkat. Cerita ini di buat hanya untuk ajang senang-senang dan pelampiasan stress. Nothing more. Just read it and don’t forget to leave comments 😀

Dan untuk lirik lagu yang dinyanyikan oleh Azura dan kawan-kawan itu adalah sebuah puisi karya Azalea Maurish, senpai saya di dunia per-fanfiksi-an, dan tentunya menjadi inspirasi saya dalam membuat ceita ini. So. it’s not mine, definitely hehe. She wrote really a lot of fanfictions with heavy and dark theme that I really love the most haha. Thanks for making such a great stories, senpai 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s