untitled (2)

“Aw. Fuck.”

Gadis itu mengaduh dan merutuk lantaran ia baru saja menendang ban motornya terlalu keras. Alhasil, ia merasakan sakit di bagian jari kakinya.

Gadis itu tak berharap bahwa hari ini akan menjadi hari sialnya. For God’s sake, hari ini hari sabtu. Siapa yang tidak bahagia dengan hari sabtu? No one. Tapi hari ini gadis itu malah mendapat banyak kesialan.

Kesialan pertama, dia lupa membawa tugas rumahnya dan dengan cerobohnya meningalkannya di meja belajar.

Kesialan kedua, akibat kecerobohannya itu, pak guru mengeluarkannya dari kelas dan menyuruhnya berdiri di luar kelas sampai pelajarannya selesai.

Kesialan ketiga, ban motornya bocor. Apalagi bengkel jauh dari sekolahnya. Hari ini panas dan rasanya tersiksa sekali harus mendorong motor itu sampai ke tempat bengkel.

Selagi gadis itu sibuk berpikir tentang kesialan-kesialannya hari ini, seseorang menegurnya.

“Kau sedang apa?”

Oh ya, posisi gadis itu sekarang sedang berjongkok, mengamati ban motornya yang bocor. Karena mendengar suara, gadis itu lantas mendongak dan mendapati seseorang sedang melihatnya dengan pandangan bingung.

Pemuda itu teman sekelasnya. dan pemuda itu juga―

“Kenapa? Ban motormu bocor?”

―orang yang dia sukai.

Shit, ini terdengar mulai melankolis. Gadis itu sejenak mengesampingkan perasaan menggelitik di dadanya, karena ada masalah yang lebih penting. Ingat? Ban bocor.

Gadis itu hanya bisa mengangguk pelan dan berdiri. Ia tidak tahu harus berkata apalagi, ingin meminta bantuan pemuda itu, mulutnya tiba-tiba bungkam dan tidak bisa mengeluarkan satu patah katapun.

“Kau harus membawanya ke bengkel, kan?”

Gadis itu memandangnya tidak yakin, ia kembali memandangi ban motornya.

“Mau aku bantu?”

“Eh―”

tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara melengking seseorang.

“Kalian sedang apa?”

“Ban motornya kempes.” Pemuda itu berucap sambil menunjuk ban motor yang kempes itu.

“Wah, kenapa tidak di bawa ke bengkel?”

“Ini aku berniat ingin membantunya.”

“Kau? Kau membantunya? Terus aku pulang dengan siapa?”

Oh iya, gadis itu mendadak ingat bahwa gadis berisik tukang mengeluh ini adalah teman sekelasnya juga―tapi mereka tidak akrab― dan tetangga pemuda itu yang suka numpang pulang ke rumah. Dia menganggap gadis berisik itu sebagai parasit. Terserah mau berpikir dia jahat atau bagaimana. Gadis itu menganggapnya sebagai omongan di kepala yang jujur.

“Yasudah, kalian berdua pakai motorku saja. Aku yang akan mendorong motor ini. Kita jumpa di bengkel.” Ujarnya dan memberikan kunci motornya pada gadis itu. Belum sempat gadis itu membantah, pemuda itu sudah mendorong pergi motornya.

“Yasudah deh, kau yang bawa yah.” Gadis berisik―kita anggap saja seperti itu―itu berujar. Yah, tidak ada pilihan lain.

Gadis itu mengemudikan motornya dengan pelan, tidak ingin mendahului pemuda yang sedang mengiring motor dengan ban kempesnya.

Ia sedikitnya merasa bersalah, tapi senyum di wajahnya sangat tidak berbanding lurus dengan pikirannya.

Entahlah, sesaat gadis itu berpikir pemuda itu sedikit peduli padanya. Oke, hanya sedikit. Biarlah dirinya dengan pikiran roman picisannya. Sekedar berkhayal tidak masalahkan.

Akhirnya gadis itu memutuskan untuk sejajar dengan pemuda itu, jadi kalian bisa bayangkan seberapa lambat gadis itu membawa motor sekarang?

“Kau tidak apa-apa? Aku jadi tidak enak.”

“Tidak apa-apa. Ini gunanya laki-laki. Tidak mungkin aku membiarkan perempuan melakukan ini. Matahari sedang panas-panasnya.”

Gadis itu merasa tertampar dengan perkataan pemuda itu. Oh tentu saja, pemuda itu menolongnya karena ia seorang perempuan. Bukan karena ada sesuatu. Oke, gadis itu sendiri yang bepikir terlalu jauh.

Sesampainya di bengkel, gadis itupun mengembalikan motor dan kuncinya kepada sang pemuda.

“Terima kasih banyak. Kalian sudah bisa pulang, kok.”

“Iya, ayo pulang. Hari ini panas sekali.” Keluh si gadis berisik.

“Kau saja yang pulang, kau bisa bawa motorku. Aku akan menemaninya disini.”

“Eh?” Kaget kedua gadis itu.

“Kenapa begitu? Kan motornya sedang di perbaiki, kita tidak punya kewajiban lagi dong nungguin dia.”

Gadis itu hanya bisa diam saat mendengar gadis berisik itu berucap. Ada benarnya juga sih dia. Urusan mereka cuma sampai disini.

“Aku tidak ingin merepotkanmu lagi,” dan ucapan itu di hadiahi gelengan dari sang pemuda.

“Kalau aku bilang tidak mau pulang, yah tidak mau pulang.”

Gadis itu mendesah, dia bingung dengan dirinya sendiri, kenapa dia bisa suka dengan pemuda keras kepala itu.

Gadis berisik itu kembali mengeluh dan tidak di gubris oleh sang pemuda.

Gadis itu hanya bisa tersenyum melihat mereka berdua.

Tapi, entahlah. Setidaknya ia merasa, hari ini tidak terlalu sial juga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s