untitled (3)

“Hei.”

Gadis yang tadinya sedang sibuk mengetik di laptop, menghentikan sejenak kegiatannya itu demi melihat siapa yang baru saja menyapanya.

Mata gadis itu seketika membola, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.

Pemuda itu, teman SMA-nya yang sudah lama tidak ia lihat. Astaga, seketika gadis itu merasa sesak nafas menyerangnya. Terlalu kaget dengan kehadiran pemuda itu yang tiba-tiba. Bahkan dia ragu apakah ini mimpi atau pemuda itu hanya sekedar ilusi akibat dirinya yang terlalu sering memikirkan pemuda itu.

Yah, tentu saja, dengan gamblang bisa dikatakan gadis itu punya rasa pada sang pemuda.

“Kenapa melamun seperti itu? Kau seperti melihat hantu saja.”

Gadis itu menggeleng, berusaha membuat pikirannya kembali ke dunia nyata.

“Aku duduk di sini saja yah?” tanpa menunggu persetujuan sang gadis, pemuda itu meletakkan makanannya di meja dan duduk berhadapan dengan gadis itu.

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Ha? Tentu saja sarapan. Aku biasa sarapan di sini. Yah, tau sajalah aku tinggal sendiri dan tidak bisa masak.”

Oh iya, gadis itu ingat bahwa pemuda itu kuliah di kota ini, sedangkan gadis itu hanya mampir ke kota ini karena kuliahnya sedang libur panjang.

“Dan kau, apa yang kau lakukan disini? Terakhir kita chat, kau tidak mengatakan sedang kuliah di kota ini. Aku saja hampir ragu bahwa itu adalah kau. Sedang berlibur?”

“Hu-uh, aku sedang berlibur di rumah saudara. Rumahnya dekat sini. Karena sedang bosan dan sedang ingin menulis, aku jadi mampir sekaligus sarapan disini.”

Pemuda itu masih mengangguk, “kau masih suka menulis? Aku berharap sekali bisa membacanya.” Pemuda itu menyeruput kopi panasnya perlahan.

Gadis itu menggeleng, “tidak akan pernah,” dan pemuda itu hanya menggumamkan kata pelit dan sejenisnya.

Gila saja jika dia membiarkan pemuda itu membaca apa yang ia tulis. Karena, semua yang ia tulis adalah tentang pemuda itu. Astaga, kalian boleh berpikir dia gila atau maniak dan sejenisnya, tapi dengan memikirkan pemuda itu, dia bisa menulis. Jadi, sebenarnya sah-sah saja.

“Kau sombong sekali, tidak pernah mengirimiku pesan lagi.”

Ah, topik ini lagi. Tidak bisakah pemuda itu mengerti, semakin sering gadis itu mengiriminya pesan, akan semakin susah gadis itu melupakannya.

Intinya, gadis itu ingin melupakan pemuda itu. Ia tidak ingin terjebak di perasaan yang tidak tahu punya akhir atau tidak.

“Aku mulai sibuk, jadi tidak punya waktu.” Ujarnya sedikit dingin, atau memang dingin. Dia berusaha tidak peduli.

Pemuda itu mengangguk sambil melahap sarapannya.

Ada keheningan yang agak lama di antara mereka. Sambil mengetik, gadis itu mencuri pandang pada pemuda yang ada di hadapannya. Dia tidak banyak berubah kecuali garis-garis kedewasaan di wajahnya, tubuhnya yang semakin tinggi dan bahunya yang tegap, itu merupakan pandangan baru bagi sang gadis.

Shit, dia kembali merasakan perasaan menggelitik itu di dadanya, ketika dia sibuk membayangkan pemuda itu. Yah, dia ingat saat masih belum sibuk-sibuknya mendapat tugas kuliah, mereka masih intens melakukan komunikasi, sekedar mengirim pesan atau mengirim chat singkat.

Tapi semua mulai berkurang saat mereka berdua mulai sibuk dengan kuliahnya. Dan gadis itu membuat hal tersebut sebagai alasan untuk dia melupakan pemuda itu.

Tapi sekarang, dia malah bertemu dengan pemuda itu langsung. Face to face. Membuatnya dilema. Gadis itu harus mengakhiri ini semua.

Sebuah skenario dadakan muncul di kepalanya. Ini sedikit ekstrim, tapi dia tidak peduli. Gadis itu akan mengutarakan perasaannya, diterima atau tidak dia tidak peduli. Bahkan sebelum pemuda itu menjawab, ia akan langsung angkat kaki dari tempat itu.

Yang terpenting, gadis itu ingin melepaskan perasaan yang sudah hampir lima tahun itu. Membuatnya sering galau, gagal move-on, dan menjomblo sekian lamanya. Di dunia ini banyak cowok dan bahkan lebih tampan dari dirinya. Oke, semua akan berakhir disini, harini. Pikir gadis itu.

“Aku ingin mengatakan sesuatu?”

Pemuda itu mendongak dari sarapannya yang sedari tadi tidak kunjung habis. “Apa?”

Oke, gadis itu sudah memutuskan. Dia sudah memutuskan. Jadi, tidak ada lagi kata mundur kali ini.

“Mungkin ini terdengar mendadak dan agak mengangetkan, aku juga tidak butuh jawaban darimu,” pemuda itu mendengarkan dengan senyum manis di wajahnya. Shit, senyum itu sedikit menciutkan niat gadis itu.

Gadis itu menarik nafas dalam-dalam. “Oke, aku menyukaimu. Sudah sangat lama, sampai rasanya sakit sekali. Dan seperti yang aku katakan, aku tidak berharap mendengar jawabanmu. Oke, kalau begitu kita akhiri perjumpaan kita hari ini, sampai jumpa.”

Gadis itu bergegas pergi setelah merapikan semua barang-barangnya bahkan menulikan telinganya dari panggilan pemuda itu.

Di parkiran ia menumpukan tangan kanannya di mobil sambil menghirup nafas dalam-dalam. Dia hanya berlari kecil tadi, tapi dampaknya melelahkan sekali. Sepertinya gadis itu memang butuh olahraga.

Sebelum tangannya membuka pintu mobil, ada tangan lain yang mencengkram pergelangan tangannya. Ia menoleh dan matanya kembali membola melihat pemuda itu sudah ada di sampingnya.

“Kenapa kau ada disini?”

“Aku mengejarmu. Kau mungkin tidak ingin mendengarkan jawaban dariku, tapi aku ingin.” Tegas pemuda itu. Ada kilatan aneh di matanya yang gadis itu tidak pernah lihat sebelumnya.

“Aku tidak ingin mendengarkannya. Aku tidak mau.” Gusar gadis itu sambil berusaha melepaskan cengkraman di tangannya.

“Tapi, aku ingin mengatakannya. Aku mencintaimu.”

“Aku tidak mau dengar, aku tidak―?”

Gadis itu menghentikan usahanya melepaskan cengkraman pemuda itu. Tangannya yang tadi terangkat di udara, ia biarkan jauh karena mendadak tubuhnya lemas dengan perkataan sang pemuda.

“Kau yakin tidak mau mendengarkan jawabanku?” Goda pemuda itu lagi. Dan air mata mulai mengalir pelan di wajah sang gadis. Pikiran gadis itu mendadak kosong.

“Aku tahu kau menyukaiku, sejak sekian lama. Tapi, aku takut pikiranku itu salah. Aku tidak berani mengutarakan perasaanku padamu. Tentu saja, di tolak itu bukan hal yang aku inginkan, terserah kau mau bilang aku pengecut atau apapun. Setelahnya, tiba-tiba saja kau tidak pernah menghubungiku lagi. Aku sudah berpikir, mungkin kau sudah melupakanku dan akupun berhenti berharap. Mungkin ini terdengar jahat dan egois sekali, membuatmu melakukan semua ini yang seharusnya aku―laki-laki―melakukannya. Aku benar-benar minta maaf.”

Gadis itu sama sekali tidak berkata apapun. Ia meletakkan tasnya di bawah dan memeluk pemuda itu dengan erat.

“Dasar kau cowok sadis, egois, brengsek, tidak tahu malu, pengecut, brengsek, egois.” Gerutu sang gadis dengan pelan.

“Kau mengucapkan brengsek dan egois dua kali.”

“Biarkan saja. Aku memang sengaja.”

“Tapi kau tetap menyukai pemuda ini. Bukankah itu artinya kau seorang masokis?” Goda pemuda itu.

Gadis itu melepaskan pelukannya, memandang wajah pemuda itu dengan seringaian disana, gadis itu pun meninju kuat bahu sang pemuda. Pemuda itu mengaduh pelan. Gadis itu kembali memeluknya, pemuda itu membalas tak kalah eratnya.

“Aku membencimu.”

“Aku mencintaimu.”

“Aku benar-benar membencimu loh.”

“Iya, aku tahu, aku juga benar-benar mencintaimu.”

Oh, ternyata perasaan yang sudah lama itu, memiliki akhir yang memang sepatutnya ada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s