Am I Improving?

tumblr_ngxsraZ4Rh1sekxdfo1_500 tumblr_nhed74Lbmp1sekxdfo1_500

tumblr_nhncoaZnzt1sekxdfo1_500 tumblr_ni0b0nu4SB1sekxdfo1_500

Apakah diriku semakin lebih baik dari sebelumnya?

Apakah ada perubahan yang berarti?

Apakah usaha selama ini ada hasilnya?

Entahlah.

.

Karena setiap harinya, aku melakukan dan melihat hal yang sama,

sehingga, garis perubahan itu pudar dan membuat diriku tak menyadari perbedaanya.

.

Apakah diriku semakin lebih baik dari sebelumnya?

Apakah ada perubahan yang berarti?

Apakah usaha selama ini ada hasilnya?

Aku tidak tahu.

Advertisements

The Big Project (a.k.a Tugas Besar) is Finally OVER!

Oh My God. Alhamdulillah. Sesungguhnya hamba tak pernah berpikir akan bisa melewati ini semua. Alhamdulillah, ini semua terlewati dengan baik dan bahagia. Alhamdulillah, Saya bahagia, semua bahagia ahahahahaha.

Memang yah, yang namanya Tugas Besar itu memang benar-benar besar. Dalam satu semester ini kami mendapatkan 4 Tugas Besar. Bahkan Praktikum juga ada tugas besarnya. Dan dengan kekuatan bulan (ini lebay hahaha), Tugas besar Praktikum itu terkerjakan dalam waktu 1 hari satu malam. Apa nggak garzia banget tuh ckck.

Nasib memang kuliah di bidang yang tidak kita inginkan. Semua harus terjalani dengan semestinya tanpa bisa protes sama sekali. Adek walaupun sudah semester 3, masih menyesali dengan jurusan yang adek pilih ini. Dang it.

Tapi, mau bagaimana lagi, semua nggak bisa di ubah lagi dari awal. Semua sudah terlambat. Ah, sudahlaaaah.

Ih, tapi seriusan deh, selama mengerjakan Tugas Besar semester 3, saya merasakan perasaan yang berbeda dengan Tugas Besar semester 2.

Memang damn kalilah sumpah semua tugas semester 3 ini. Semua dosen seolah-olah cuma dia yang ngasih tugas dan nggak memikirkan dosen lain yang bakal ngasih tugas sama beratnya ataupun lebih. Syukurlah memang ada satu dosen yang memang saya idolakan, dia benar-benar dosen yang berbeda sekali. Anti-Mainstream. Tidak Stereotype.

Terus muncul sebuah pikiran, “Tugas besar semester 3 aja gini, gimana 4, 5, 6, dst?”

Nah, nggak sampai disitu aja, pertanyaan yang sebenarnya adalah, “Bagaimana dengan Skripsi?”

ARGH! Saya bete memikirkan di Indonesia ini, tidak sama dengan Luar Negeri yang tidak pakai sistem Skripsi. Ugh, sumpah, bener deh tuh kata meme-meme di luar sana, ‘Udah nggak sanggup lagi ngelanjutin semester 3, mau nikah aja!’ HAHAHA. Sumpah itu lucu sekaligus miris. Terlalu pendekkah pemikiran mereka untuk memilih MENIKAH saja? Nggak mikir apa, emang lo kira setelah nikah lo bakal hidup tenang? NAY! Nggak ada yang mudah di dunia ini, PLZ.

Oke, kembali ke Tugas Besar.

Hal yang paling saya benci saat mengerjakan Tugas Besar adalah NAHAN NGANTUK. Suruh aja saya menahan lapar, pasti saya sanggup. Kalau menahan tidur, TIDAK SAMA SEKALI.

Sleeping is my favorite activity. 

I can sleep everywhere as long as the place isn’t humid.

Bahkan, saat mengetik ini saja saya merasa sangat mengantuk wkwk.

Thanks to Nesc*fe, berkatnya saya bisa melewati malam-malam saya tanpa tidur. Terima kasih untuk orang tua saya dan adik-adik saya yang sudah mau bersabar saat diri saya menggila karena tugas ini. Juga teman setim-saya, Wita, Dedek, dan Jun. Thanks a lot guys, without you all, I’m nothing. Nggak ada Jun nggak siaplah itu php, nggak ada dedek nggak siaplah itu laporan, nggak ada wita nantik nggak bagi dua ngerjain design-webnya. Dan yang paling utama-tapi terakhir disebutkannya- Terima Kasih kepada Allah SWT yang sudah mau mendengarkan doa-doa kami dan mempermudah jalan kami dalam menyelesaikan tugas besar itu. Without Allah, I’m nothing.

Kabar luar biasa, besok ternyata UAS. HAHAHA. Dan saya masih sempat-sempatnya ngeblog dan ngebabbling disini.

Baiklah kalau begitu, saya harus belajar php yang sesungguhnya nggak akan bisa masuk ke dalam otak saya. Ciao.

MY INSPIRATIONS

―Who has inspired you in your life and why?


Pertanyaan ini rasanya enak untuk di bahas. Lagi bosan tidak mengerjakan apapun, padahal besok uts terakhir dan rasanya malas sekali untuk belajar. Apalagi besok ujiannya salah satu mata kuliah yang tidak saya sukai. Catatan, ini salah satu kebiasaan buruk, jadi tidak baik untuk di contoh. Walaupun sebenarnya klise sekali mengatakan itu, mengingat kebiasaan itu sudah menjamur dimana-mana.

Oke, kita berhenti sampai disitu. Kembali ke topik utama yang mau di bahas yaitu tentang inspirasi dalam hidup. Jelas dong setiap manusia punya orang-orang yang menginspirasinya dalam hidup. Sebagai contoh, ini inspirasi yang paling umum, kalau di adakan sebuah survei, inspirasi ini akan menduduki peringkat teratas.

Siapa lagi kalau bukan wanita paling kuat, paling cerewet, sekaligus paling lembut di dunia, IBU. Ada yang memanggilnya, mama, mami, mommy, enyak, emak, dan lain sebagainya. Kalau saya sendiri mengambil panggilan paling umum, Mama.

Tentu saja, dalam pembahasan kali ini Mama saya pasti masuk peringkat teratas. Tapi itu terlalu cepat untuk di bahas sekarang, karena beliau istimewa jadi saya akan bahas terakhir.

Saya membuatnya menjadi beberapa poin dari yang terendah hingga yang teratas, yaitu Mama saya hahaha.


3. AGNES CECILE, VALERIE ANN CHUA, DIKA TOOLKIT, ELFANDIARY

Kenapa saya menggabungkan nama mereka semua dalam satu poin, karena inti yang membuat mereka jadi inspirasi saya sama, yaitu seni. Dari dulu saya memang suka menggambar. Jangan langsung berpikir saya punya bakat alami yang maha dahsyat sehingga menciptakan karya seni bernilai mahal dalam usia belia. Tentu saja tidak, walau sebenarnya ingin hahaha. Awalnya saat masih SD, saya suka menggambar perempuan seperti princess dengan gaun cantik dan kepala bertahtakan mahkota. Tapi tentu saja, gambaran dan deskripsi barusan tidak berbanding lurus. Saya yang sekarang saja mengatakan gambar itu jelek sekali. Yah, tapi itulah awal dari sebuah proses yang saya jalani. Awalnya hanya bosan coret-coret lama kelamaan saya suka menggambar doodle dan berakhir mengambar ilustrasi. Empat nama di atas adalah orang-orang yang punya bakat seni luar biasa, awesome, amazing, yang membuat saya terpukau dengan karya seni mereka. Sempat iseng saya menganggap mereka dewa hahaha.

Saya terinspirasi dari karya-karya mereka yang dulunya biasa saja menjadi luar biasa. Yang dulunya bukan apa-apa menjadi apa-apa dengan karya-karya mereka. Saya pokoknya ngefans berat deeh sama mereka. Saya akhirnya membuat hobby saya menjadi tidak sebatas hobby dan harus menjadi skill yang bisa di pakai di masa mendatang. Catatan saja, saya sebenarnya anak Teknologi Informasi yang gagal masuk Seni. Niatnya pengen kuliah asik-asik menggambar, sekarang malah sibuk dengan program, database, website, dll. Saya merasa kemampuan saya kurang disana, jadi akhirnya saya memutuskan untuk meminta izin dari orang tua untuk ikut kursus sketching dan ilustrasi tapi tetap melanjutkan kuliah seperti biasa.

2. MICHELLE PHAN

Siapa yang tidak kenal dengan Make-up Guru yang satu ini. Kalau yang suka buka youtube dan cari-cari video soal tutorial make-up pastilah kenal dengan wanita yang satu ini. Dia juga termaksud salah satu wanita yang menginspirasi saya dalam hidup. Banyak yang dia rubah dari saya saat saya menonton tayangannya di youtube. Yah, dia tidak sekedar membuat video untuk memoles-moles wajah saja, tapi tentu kita di ajak berinteraksi dengan dirinya―bukan dalam artian yang sebenarnya yah. Dia suka bercerita hal-hal yang bagi saya menarik saat dia melakukan tutorial make-upnya. Kisah hidupnya pun tidaklah lebih baik dari saya pada awalnya―dia pernah menceritakan kisah hidupnya dari kecil hingga sekarang dalam sebuah video dengan ilustrasi.

Jadi saya pun memutuskan untuk tidak pernah putus asa. Susah loh meyakinkan diri untuk tidak akan putus asa, karena setiap kali kita menemui kegagalan, rasa putus asa itu pasti ada. Hanya saja, yaah meyakinkan diri adalah hal utama yang dilakukan pada awalnya. Susah mengatakan tidak akan putus asa kalau belum yakin pada diri sendiri. Saya awalnya pun seperti itu. Saya suka mengeluh, bosan, pemalas dan sebagainya. Sampai sekarangpun saya tetap melakukannya.

Tapi tentu saja proses yang akan mengubahnya. Semua tidak bisa berubah dalam waktu singkat, proses yang baik dan benar mungkin yang akan merubanya menjadi hasil yang lebih baik.

Seorang Michelle Phan saja yang hidupnya lebih buruk dari saya bisa menggapai mimpinya, jadi saya harus yakin bahwa saya harus bisa. Kalau tidak yakin, mau kapan lagi?

Tapi tentu saja, saya benar-benar menyukainya. Dia wanita yang hebat. Dengan hal yang dia sukai, dia bisa sukses dan senang melakukannya. Tentu saja melakukan perkerjaan yang kita sukai, membuat pekerjaan itu menyenangkan.

Oh ya, saya suka dengan istilah yang Michelle Phan buat yaitu #emspiration, penggabungan kata EM―yang merupakan brand make-up yang dia buat― dan kata inspiration.

1. MY MOM

HAHAHA. Dia salah satu wanita yang saya benci dan saya sayang sekaligus. Perasaan kontradiksi itu tidak di buat-buat dan memang jujur apa adanya. Mama paling judes, cerewet, menyeramkan, tapi selalu menjadi teman. Kita nggak tahu kapan bisa terus bersama, tapi memikirkan itu semua tidak akan ada gunanya. Lebih baik nikmati saja apa yang sedang terjadi dan berdoa untuk yang lebih baik di masa yang akan datang.

Mama saya bisa dibilang agak gaul, jadi tidak kolot dan kuno. So, bisa di bayangkan berarti tingkat ke cerewetannya dan menyeramkannya seperti apa. Tapi paling enaknya, karena mama saya tidak kolot dan kuno, jadi paling gampang kalau bernegosiasi tentang sesuatu wkwk. Apalagi kalau bukan tentang hal-hal yang di inginkan. Jadi birokrasinya tidak panjang dan berbelit-belit. Nah, ini yang paling penting. Untuk mewujudkan hal-hal yang di inginkan itu sebenarnya harus di omongkan kepada Papa, tapi karena papa saya masuk dalam kategori kolot dan kuno, jadi tidak jarang kami sering berdebat untuk menghasilkan mufakat. Soalnya saya termasuk anak keras kepala dan sedikit pembangkang jika tidak sesuai dengan jalan berpikir saya. Dan tentu saja papa saya mempunyai sifat yang sama. Jadi bisa taulah yah itu sifat turun dari mana?

Dan disinilah peran mama saya dalam menterjemahkan keinginan saya ke pada papa saya dengan bahasa dan pengertian yang papa saya bisa terima. Setelah itulah baru muncul mufakat.

So, my mom is like my natural friend and natural enemy. Entah dari mana saya mendapatkan istilah itu, tapi pokoknya intinya itu deh hahaha.


Mungkin masih segitu saja dan pastinya akan bertambah seiring berlanjutnya perjalanan hidup. Good Luck.


“The only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle.”

― Steve Jobs ―


untitled (3)

“Hei.”

Gadis yang tadinya sedang sibuk mengetik di laptop, menghentikan sejenak kegiatannya itu demi melihat siapa yang baru saja menyapanya.

Mata gadis itu seketika membola, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.

Pemuda itu, teman SMA-nya yang sudah lama tidak ia lihat. Astaga, seketika gadis itu merasa sesak nafas menyerangnya. Terlalu kaget dengan kehadiran pemuda itu yang tiba-tiba. Bahkan dia ragu apakah ini mimpi atau pemuda itu hanya sekedar ilusi akibat dirinya yang terlalu sering memikirkan pemuda itu.

Yah, tentu saja, dengan gamblang bisa dikatakan gadis itu punya rasa pada sang pemuda.

“Kenapa melamun seperti itu? Kau seperti melihat hantu saja.”

Gadis itu menggeleng, berusaha membuat pikirannya kembali ke dunia nyata.

“Aku duduk di sini saja yah?” tanpa menunggu persetujuan sang gadis, pemuda itu meletakkan makanannya di meja dan duduk berhadapan dengan gadis itu.

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Ha? Tentu saja sarapan. Aku biasa sarapan di sini. Yah, tau sajalah aku tinggal sendiri dan tidak bisa masak.”

Oh iya, gadis itu ingat bahwa pemuda itu kuliah di kota ini, sedangkan gadis itu hanya mampir ke kota ini karena kuliahnya sedang libur panjang.

“Dan kau, apa yang kau lakukan disini? Terakhir kita chat, kau tidak mengatakan sedang kuliah di kota ini. Aku saja hampir ragu bahwa itu adalah kau. Sedang berlibur?”

“Hu-uh, aku sedang berlibur di rumah saudara. Rumahnya dekat sini. Karena sedang bosan dan sedang ingin menulis, aku jadi mampir sekaligus sarapan disini.”

Pemuda itu masih mengangguk, “kau masih suka menulis? Aku berharap sekali bisa membacanya.” Pemuda itu menyeruput kopi panasnya perlahan.

Gadis itu menggeleng, “tidak akan pernah,” dan pemuda itu hanya menggumamkan kata pelit dan sejenisnya.

Gila saja jika dia membiarkan pemuda itu membaca apa yang ia tulis. Karena, semua yang ia tulis adalah tentang pemuda itu. Astaga, kalian boleh berpikir dia gila atau maniak dan sejenisnya, tapi dengan memikirkan pemuda itu, dia bisa menulis. Jadi, sebenarnya sah-sah saja.

“Kau sombong sekali, tidak pernah mengirimiku pesan lagi.”

Ah, topik ini lagi. Tidak bisakah pemuda itu mengerti, semakin sering gadis itu mengiriminya pesan, akan semakin susah gadis itu melupakannya.

Intinya, gadis itu ingin melupakan pemuda itu. Ia tidak ingin terjebak di perasaan yang tidak tahu punya akhir atau tidak.

“Aku mulai sibuk, jadi tidak punya waktu.” Ujarnya sedikit dingin, atau memang dingin. Dia berusaha tidak peduli.

Pemuda itu mengangguk sambil melahap sarapannya.

Ada keheningan yang agak lama di antara mereka. Sambil mengetik, gadis itu mencuri pandang pada pemuda yang ada di hadapannya. Dia tidak banyak berubah kecuali garis-garis kedewasaan di wajahnya, tubuhnya yang semakin tinggi dan bahunya yang tegap, itu merupakan pandangan baru bagi sang gadis.

Shit, dia kembali merasakan perasaan menggelitik itu di dadanya, ketika dia sibuk membayangkan pemuda itu. Yah, dia ingat saat masih belum sibuk-sibuknya mendapat tugas kuliah, mereka masih intens melakukan komunikasi, sekedar mengirim pesan atau mengirim chat singkat.

Tapi semua mulai berkurang saat mereka berdua mulai sibuk dengan kuliahnya. Dan gadis itu membuat hal tersebut sebagai alasan untuk dia melupakan pemuda itu.

Tapi sekarang, dia malah bertemu dengan pemuda itu langsung. Face to face. Membuatnya dilema. Gadis itu harus mengakhiri ini semua.

Sebuah skenario dadakan muncul di kepalanya. Ini sedikit ekstrim, tapi dia tidak peduli. Gadis itu akan mengutarakan perasaannya, diterima atau tidak dia tidak peduli. Bahkan sebelum pemuda itu menjawab, ia akan langsung angkat kaki dari tempat itu.

Yang terpenting, gadis itu ingin melepaskan perasaan yang sudah hampir lima tahun itu. Membuatnya sering galau, gagal move-on, dan menjomblo sekian lamanya. Di dunia ini banyak cowok dan bahkan lebih tampan dari dirinya. Oke, semua akan berakhir disini, harini. Pikir gadis itu.

“Aku ingin mengatakan sesuatu?”

Pemuda itu mendongak dari sarapannya yang sedari tadi tidak kunjung habis. “Apa?”

Oke, gadis itu sudah memutuskan. Dia sudah memutuskan. Jadi, tidak ada lagi kata mundur kali ini.

“Mungkin ini terdengar mendadak dan agak mengangetkan, aku juga tidak butuh jawaban darimu,” pemuda itu mendengarkan dengan senyum manis di wajahnya. Shit, senyum itu sedikit menciutkan niat gadis itu.

Gadis itu menarik nafas dalam-dalam. “Oke, aku menyukaimu. Sudah sangat lama, sampai rasanya sakit sekali. Dan seperti yang aku katakan, aku tidak berharap mendengar jawabanmu. Oke, kalau begitu kita akhiri perjumpaan kita hari ini, sampai jumpa.”

Gadis itu bergegas pergi setelah merapikan semua barang-barangnya bahkan menulikan telinganya dari panggilan pemuda itu.

Di parkiran ia menumpukan tangan kanannya di mobil sambil menghirup nafas dalam-dalam. Dia hanya berlari kecil tadi, tapi dampaknya melelahkan sekali. Sepertinya gadis itu memang butuh olahraga.

Sebelum tangannya membuka pintu mobil, ada tangan lain yang mencengkram pergelangan tangannya. Ia menoleh dan matanya kembali membola melihat pemuda itu sudah ada di sampingnya.

“Kenapa kau ada disini?”

“Aku mengejarmu. Kau mungkin tidak ingin mendengarkan jawaban dariku, tapi aku ingin.” Tegas pemuda itu. Ada kilatan aneh di matanya yang gadis itu tidak pernah lihat sebelumnya.

“Aku tidak ingin mendengarkannya. Aku tidak mau.” Gusar gadis itu sambil berusaha melepaskan cengkraman di tangannya.

“Tapi, aku ingin mengatakannya. Aku mencintaimu.”

“Aku tidak mau dengar, aku tidak―?”

Gadis itu menghentikan usahanya melepaskan cengkraman pemuda itu. Tangannya yang tadi terangkat di udara, ia biarkan jauh karena mendadak tubuhnya lemas dengan perkataan sang pemuda.

“Kau yakin tidak mau mendengarkan jawabanku?” Goda pemuda itu lagi. Dan air mata mulai mengalir pelan di wajah sang gadis. Pikiran gadis itu mendadak kosong.

“Aku tahu kau menyukaiku, sejak sekian lama. Tapi, aku takut pikiranku itu salah. Aku tidak berani mengutarakan perasaanku padamu. Tentu saja, di tolak itu bukan hal yang aku inginkan, terserah kau mau bilang aku pengecut atau apapun. Setelahnya, tiba-tiba saja kau tidak pernah menghubungiku lagi. Aku sudah berpikir, mungkin kau sudah melupakanku dan akupun berhenti berharap. Mungkin ini terdengar jahat dan egois sekali, membuatmu melakukan semua ini yang seharusnya aku―laki-laki―melakukannya. Aku benar-benar minta maaf.”

Gadis itu sama sekali tidak berkata apapun. Ia meletakkan tasnya di bawah dan memeluk pemuda itu dengan erat.

“Dasar kau cowok sadis, egois, brengsek, tidak tahu malu, pengecut, brengsek, egois.” Gerutu sang gadis dengan pelan.

“Kau mengucapkan brengsek dan egois dua kali.”

“Biarkan saja. Aku memang sengaja.”

“Tapi kau tetap menyukai pemuda ini. Bukankah itu artinya kau seorang masokis?” Goda pemuda itu.

Gadis itu melepaskan pelukannya, memandang wajah pemuda itu dengan seringaian disana, gadis itu pun meninju kuat bahu sang pemuda. Pemuda itu mengaduh pelan. Gadis itu kembali memeluknya, pemuda itu membalas tak kalah eratnya.

“Aku membencimu.”

“Aku mencintaimu.”

“Aku benar-benar membencimu loh.”

“Iya, aku tahu, aku juga benar-benar mencintaimu.”

Oh, ternyata perasaan yang sudah lama itu, memiliki akhir yang memang sepatutnya ada.

untitled (2)

“Aw. Fuck.”

Gadis itu mengaduh dan merutuk lantaran ia baru saja menendang ban motornya terlalu keras. Alhasil, ia merasakan sakit di bagian jari kakinya.

Gadis itu tak berharap bahwa hari ini akan menjadi hari sialnya. For God’s sake, hari ini hari sabtu. Siapa yang tidak bahagia dengan hari sabtu? No one. Tapi hari ini gadis itu malah mendapat banyak kesialan.

Kesialan pertama, dia lupa membawa tugas rumahnya dan dengan cerobohnya meningalkannya di meja belajar.

Kesialan kedua, akibat kecerobohannya itu, pak guru mengeluarkannya dari kelas dan menyuruhnya berdiri di luar kelas sampai pelajarannya selesai.

Kesialan ketiga, ban motornya bocor. Apalagi bengkel jauh dari sekolahnya. Hari ini panas dan rasanya tersiksa sekali harus mendorong motor itu sampai ke tempat bengkel.

Selagi gadis itu sibuk berpikir tentang kesialan-kesialannya hari ini, seseorang menegurnya.

“Kau sedang apa?”

Oh ya, posisi gadis itu sekarang sedang berjongkok, mengamati ban motornya yang bocor. Karena mendengar suara, gadis itu lantas mendongak dan mendapati seseorang sedang melihatnya dengan pandangan bingung.

Pemuda itu teman sekelasnya. dan pemuda itu juga―

“Kenapa? Ban motormu bocor?”

―orang yang dia sukai.

Shit, ini terdengar mulai melankolis. Gadis itu sejenak mengesampingkan perasaan menggelitik di dadanya, karena ada masalah yang lebih penting. Ingat? Ban bocor.

Gadis itu hanya bisa mengangguk pelan dan berdiri. Ia tidak tahu harus berkata apalagi, ingin meminta bantuan pemuda itu, mulutnya tiba-tiba bungkam dan tidak bisa mengeluarkan satu patah katapun.

“Kau harus membawanya ke bengkel, kan?”

Gadis itu memandangnya tidak yakin, ia kembali memandangi ban motornya.

“Mau aku bantu?”

“Eh―”

tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara melengking seseorang.

“Kalian sedang apa?”

“Ban motornya kempes.” Pemuda itu berucap sambil menunjuk ban motor yang kempes itu.

“Wah, kenapa tidak di bawa ke bengkel?”

“Ini aku berniat ingin membantunya.”

“Kau? Kau membantunya? Terus aku pulang dengan siapa?”

Oh iya, gadis itu mendadak ingat bahwa gadis berisik tukang mengeluh ini adalah teman sekelasnya juga―tapi mereka tidak akrab― dan tetangga pemuda itu yang suka numpang pulang ke rumah. Dia menganggap gadis berisik itu sebagai parasit. Terserah mau berpikir dia jahat atau bagaimana. Gadis itu menganggapnya sebagai omongan di kepala yang jujur.

“Yasudah, kalian berdua pakai motorku saja. Aku yang akan mendorong motor ini. Kita jumpa di bengkel.” Ujarnya dan memberikan kunci motornya pada gadis itu. Belum sempat gadis itu membantah, pemuda itu sudah mendorong pergi motornya.

“Yasudah deh, kau yang bawa yah.” Gadis berisik―kita anggap saja seperti itu―itu berujar. Yah, tidak ada pilihan lain.

Gadis itu mengemudikan motornya dengan pelan, tidak ingin mendahului pemuda yang sedang mengiring motor dengan ban kempesnya.

Ia sedikitnya merasa bersalah, tapi senyum di wajahnya sangat tidak berbanding lurus dengan pikirannya.

Entahlah, sesaat gadis itu berpikir pemuda itu sedikit peduli padanya. Oke, hanya sedikit. Biarlah dirinya dengan pikiran roman picisannya. Sekedar berkhayal tidak masalahkan.

Akhirnya gadis itu memutuskan untuk sejajar dengan pemuda itu, jadi kalian bisa bayangkan seberapa lambat gadis itu membawa motor sekarang?

“Kau tidak apa-apa? Aku jadi tidak enak.”

“Tidak apa-apa. Ini gunanya laki-laki. Tidak mungkin aku membiarkan perempuan melakukan ini. Matahari sedang panas-panasnya.”

Gadis itu merasa tertampar dengan perkataan pemuda itu. Oh tentu saja, pemuda itu menolongnya karena ia seorang perempuan. Bukan karena ada sesuatu. Oke, gadis itu sendiri yang bepikir terlalu jauh.

Sesampainya di bengkel, gadis itupun mengembalikan motor dan kuncinya kepada sang pemuda.

“Terima kasih banyak. Kalian sudah bisa pulang, kok.”

“Iya, ayo pulang. Hari ini panas sekali.” Keluh si gadis berisik.

“Kau saja yang pulang, kau bisa bawa motorku. Aku akan menemaninya disini.”

“Eh?” Kaget kedua gadis itu.

“Kenapa begitu? Kan motornya sedang di perbaiki, kita tidak punya kewajiban lagi dong nungguin dia.”

Gadis itu hanya bisa diam saat mendengar gadis berisik itu berucap. Ada benarnya juga sih dia. Urusan mereka cuma sampai disini.

“Aku tidak ingin merepotkanmu lagi,” dan ucapan itu di hadiahi gelengan dari sang pemuda.

“Kalau aku bilang tidak mau pulang, yah tidak mau pulang.”

Gadis itu mendesah, dia bingung dengan dirinya sendiri, kenapa dia bisa suka dengan pemuda keras kepala itu.

Gadis berisik itu kembali mengeluh dan tidak di gubris oleh sang pemuda.

Gadis itu hanya bisa tersenyum melihat mereka berdua.

Tapi, entahlah. Setidaknya ia merasa, hari ini tidak terlalu sial juga.

Line Bagi Berkah

Haha sumpil yaah, agak gimana gitu waktu tiba-tiba dapat beginian wkwk. Awalnya, waktu bulan juli atau agustus gitu, kan ada tuh Line agak heboh voting-voting terus bagi-bagi tiket nonton gretongan haha. Jadi, sebenarnya aku juga nggak berharap banget sih dapat itu dan ikut voted-voted ajaa dan alhasil dirikupun dapat. Tapi sayang banget sampai sekarang kalau bidding kamera, ipad dan lain-lainnya aku masih belum pernah dapat. Tapi ini aja udah syukur sih, soalnya aku juga doyan nonton 😉

Jadi, awalnya pihak Linenya nyuruh aku ngirim data diri ke e-mail mereka. Eh, setelah dikirim, mereka nggak ada konfirmasi balik kalau bakal dikirim dengan cara apa dan bagaimana. Jadi, dua hari berlalu dan aku sih udah pasrah ajalah yekan, udahlaah nggak rezeki jugaklah itu tiket nonton, yaudah ikhlasin aja, limapuluh ribu aja, alhamdulillah masih mampu mengusahakan.

Eeeh, setelah dua bulah berlalu, tiba-tiba adek dikagetkan dengan kiriman sebuah amplop. Sumpaah yah itu syok karena memang nggak ada orang yang konfirmasi bakal mau kirim sesuatu. Udah agak berharap-harap jugak lah yakan kalau bakal dapat cek uang tunai jutaaan rupiah wkwk.

image

Eeeeeeeh, ternyata itu si tiket nonton gretongan dari Line. Itu sumpah yaah bukannya senang atau apa tapi ngakak sengakak ngakakaknya, karena berasa di troll gimana gitu hahaha. Padahal itu udah dua bulan yang lalu dan baru sampai sekarang, padahal adek sudah tak berharap banyak wkwk. Jadi adekpun senang dan bisalah yakan untuk nantik nonton Annabelle bulan oktober wkwk.

image

Dan itulah kisah lucu diriku mendapatkan tiket nonton gretongan dari Line. Sebelumnya sempat dapet juga kupon ayam KFC, eh waktu itu akunya puasa, jadinya teman deh yang makan itu ayam :’)

Semoga dikemudian hari diriku bisa menang yang lebih besar. Amin. Hehe.

Bye bye, good luck!

Shocking Twitter Replied!!!

Oh my gosh, saya mendadak kaget mendapat balasan dari seseorang yang sebenarnya tidak saya kenal baik secara personal, tapi saya kenal baik dari karya-karyanya 😀

Banyak Artist atau mangaka Pixiv (bagi yang belum tahu, Pixiv itu adalah komunitas online jepang untuk para seniman yang diluncurkan pertama kali oleh Takahiro Kamitani) yang saya kagumi karya-karyanya, terutama doujinshi Kurobas dan Durarara!!nya. Dan orang-orang yang saya kagumi itu antara lain Inumog [pixiv], Sinba [pixiv] dan UNAP [pixiv].

Haha, beberapa hari yang lalu saya iseng ngemention mereka bertiga. Sebenarnya nggak berharap banget dapat balasan. Tapi betapa kagetnya saya saat mendapat balasan dari Sinba dan UNAP! Something sekali :S *dan setelahnya saya menjerit-jerit alay gitu*

Haha, sayangnya the most pixiv artist that I love doesn’t replied my mention. Sedih sih, tapi nggak apalah. Terobati oleh Sinba-sensei dan UNAP-sensei 😀

.

.New Picture (1)

(click to enlarge)

Haha, sayah siyok dapet balesan ini.

Saya bilang, “I love all your doujinshi.”

and she replied, “thank you so much.”

so, I replied again, “you are welcome.”

Haha, pakai google translate tuh. Sumpah saya kira pakai google translate bakal hancur banget bahasa jepangnya. Tapi ternyata dia mengerti dan bisa membalasnya (atau sebenarnya dia hanya pura-pura mengerti dan mengambil intinya-___-a)

.

.

New Picture

(click to enlarge)

Dan saya juga kaget dapet balesan dari UNAP haha.

I said the same to UNAP.

and she replied, “I’m so happy, thank you very much.”

and I replied, “you are welcome.”

.

.

Sebenarnya orang yang pertama saya kirim itu Sinba dengan niat iseng doang (ciuss deh). Eh, karena dibalas, saya mau coba juga ke UNAP, dan dia juga balaaaas hahaha so happy I could diee *aah, lebay loo~*

Tapi, sebenarnya saya udah pernah kirim ke Inumog jauh-jauh hari, tapi nggak perah di bales. Mungkin karena takut saya orang asing yang bakal nguntit dia yah :S

Tapi saya tetap optimis suatu saat Yana-sensei, Inumog, dan Emi 10 Rankai akan membalas mention sayaaah XDXD *Faitoo! OH!*

.

.

.

“When we love, we always strive to become better than we are. When we strive to become better than we are, everything around us becomes better too.”

― Paulo Coelho, The Alchemist.