untitled (3)

“Hei.”

Gadis yang tadinya sedang sibuk mengetik di laptop, menghentikan sejenak kegiatannya itu demi melihat siapa yang baru saja menyapanya.

Mata gadis itu seketika membola, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.

Pemuda itu, teman SMA-nya yang sudah lama tidak ia lihat. Astaga, seketika gadis itu merasa sesak nafas menyerangnya. Terlalu kaget dengan kehadiran pemuda itu yang tiba-tiba. Bahkan dia ragu apakah ini mimpi atau pemuda itu hanya sekedar ilusi akibat dirinya yang terlalu sering memikirkan pemuda itu.

Yah, tentu saja, dengan gamblang bisa dikatakan gadis itu punya rasa pada sang pemuda.

“Kenapa melamun seperti itu? Kau seperti melihat hantu saja.”

Gadis itu menggeleng, berusaha membuat pikirannya kembali ke dunia nyata.

“Aku duduk di sini saja yah?” tanpa menunggu persetujuan sang gadis, pemuda itu meletakkan makanannya di meja dan duduk berhadapan dengan gadis itu.

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Ha? Tentu saja sarapan. Aku biasa sarapan di sini. Yah, tau sajalah aku tinggal sendiri dan tidak bisa masak.”

Oh iya, gadis itu ingat bahwa pemuda itu kuliah di kota ini, sedangkan gadis itu hanya mampir ke kota ini karena kuliahnya sedang libur panjang.

“Dan kau, apa yang kau lakukan disini? Terakhir kita chat, kau tidak mengatakan sedang kuliah di kota ini. Aku saja hampir ragu bahwa itu adalah kau. Sedang berlibur?”

“Hu-uh, aku sedang berlibur di rumah saudara. Rumahnya dekat sini. Karena sedang bosan dan sedang ingin menulis, aku jadi mampir sekaligus sarapan disini.”

Pemuda itu masih mengangguk, “kau masih suka menulis? Aku berharap sekali bisa membacanya.” Pemuda itu menyeruput kopi panasnya perlahan.

Gadis itu menggeleng, “tidak akan pernah,” dan pemuda itu hanya menggumamkan kata pelit dan sejenisnya.

Gila saja jika dia membiarkan pemuda itu membaca apa yang ia tulis. Karena, semua yang ia tulis adalah tentang pemuda itu. Astaga, kalian boleh berpikir dia gila atau maniak dan sejenisnya, tapi dengan memikirkan pemuda itu, dia bisa menulis. Jadi, sebenarnya sah-sah saja.

“Kau sombong sekali, tidak pernah mengirimiku pesan lagi.”

Ah, topik ini lagi. Tidak bisakah pemuda itu mengerti, semakin sering gadis itu mengiriminya pesan, akan semakin susah gadis itu melupakannya.

Intinya, gadis itu ingin melupakan pemuda itu. Ia tidak ingin terjebak di perasaan yang tidak tahu punya akhir atau tidak.

“Aku mulai sibuk, jadi tidak punya waktu.” Ujarnya sedikit dingin, atau memang dingin. Dia berusaha tidak peduli.

Pemuda itu mengangguk sambil melahap sarapannya.

Ada keheningan yang agak lama di antara mereka. Sambil mengetik, gadis itu mencuri pandang pada pemuda yang ada di hadapannya. Dia tidak banyak berubah kecuali garis-garis kedewasaan di wajahnya, tubuhnya yang semakin tinggi dan bahunya yang tegap, itu merupakan pandangan baru bagi sang gadis.

Shit, dia kembali merasakan perasaan menggelitik itu di dadanya, ketika dia sibuk membayangkan pemuda itu. Yah, dia ingat saat masih belum sibuk-sibuknya mendapat tugas kuliah, mereka masih intens melakukan komunikasi, sekedar mengirim pesan atau mengirim chat singkat.

Tapi semua mulai berkurang saat mereka berdua mulai sibuk dengan kuliahnya. Dan gadis itu membuat hal tersebut sebagai alasan untuk dia melupakan pemuda itu.

Tapi sekarang, dia malah bertemu dengan pemuda itu langsung. Face to face. Membuatnya dilema. Gadis itu harus mengakhiri ini semua.

Sebuah skenario dadakan muncul di kepalanya. Ini sedikit ekstrim, tapi dia tidak peduli. Gadis itu akan mengutarakan perasaannya, diterima atau tidak dia tidak peduli. Bahkan sebelum pemuda itu menjawab, ia akan langsung angkat kaki dari tempat itu.

Yang terpenting, gadis itu ingin melepaskan perasaan yang sudah hampir lima tahun itu. Membuatnya sering galau, gagal move-on, dan menjomblo sekian lamanya. Di dunia ini banyak cowok dan bahkan lebih tampan dari dirinya. Oke, semua akan berakhir disini, harini. Pikir gadis itu.

“Aku ingin mengatakan sesuatu?”

Pemuda itu mendongak dari sarapannya yang sedari tadi tidak kunjung habis. “Apa?”

Oke, gadis itu sudah memutuskan. Dia sudah memutuskan. Jadi, tidak ada lagi kata mundur kali ini.

“Mungkin ini terdengar mendadak dan agak mengangetkan, aku juga tidak butuh jawaban darimu,” pemuda itu mendengarkan dengan senyum manis di wajahnya. Shit, senyum itu sedikit menciutkan niat gadis itu.

Gadis itu menarik nafas dalam-dalam. “Oke, aku menyukaimu. Sudah sangat lama, sampai rasanya sakit sekali. Dan seperti yang aku katakan, aku tidak berharap mendengar jawabanmu. Oke, kalau begitu kita akhiri perjumpaan kita hari ini, sampai jumpa.”

Gadis itu bergegas pergi setelah merapikan semua barang-barangnya bahkan menulikan telinganya dari panggilan pemuda itu.

Di parkiran ia menumpukan tangan kanannya di mobil sambil menghirup nafas dalam-dalam. Dia hanya berlari kecil tadi, tapi dampaknya melelahkan sekali. Sepertinya gadis itu memang butuh olahraga.

Sebelum tangannya membuka pintu mobil, ada tangan lain yang mencengkram pergelangan tangannya. Ia menoleh dan matanya kembali membola melihat pemuda itu sudah ada di sampingnya.

“Kenapa kau ada disini?”

“Aku mengejarmu. Kau mungkin tidak ingin mendengarkan jawaban dariku, tapi aku ingin.” Tegas pemuda itu. Ada kilatan aneh di matanya yang gadis itu tidak pernah lihat sebelumnya.

“Aku tidak ingin mendengarkannya. Aku tidak mau.” Gusar gadis itu sambil berusaha melepaskan cengkraman di tangannya.

“Tapi, aku ingin mengatakannya. Aku mencintaimu.”

“Aku tidak mau dengar, aku tidak―?”

Gadis itu menghentikan usahanya melepaskan cengkraman pemuda itu. Tangannya yang tadi terangkat di udara, ia biarkan jauh karena mendadak tubuhnya lemas dengan perkataan sang pemuda.

“Kau yakin tidak mau mendengarkan jawabanku?” Goda pemuda itu lagi. Dan air mata mulai mengalir pelan di wajah sang gadis. Pikiran gadis itu mendadak kosong.

“Aku tahu kau menyukaiku, sejak sekian lama. Tapi, aku takut pikiranku itu salah. Aku tidak berani mengutarakan perasaanku padamu. Tentu saja, di tolak itu bukan hal yang aku inginkan, terserah kau mau bilang aku pengecut atau apapun. Setelahnya, tiba-tiba saja kau tidak pernah menghubungiku lagi. Aku sudah berpikir, mungkin kau sudah melupakanku dan akupun berhenti berharap. Mungkin ini terdengar jahat dan egois sekali, membuatmu melakukan semua ini yang seharusnya aku―laki-laki―melakukannya. Aku benar-benar minta maaf.”

Gadis itu sama sekali tidak berkata apapun. Ia meletakkan tasnya di bawah dan memeluk pemuda itu dengan erat.

“Dasar kau cowok sadis, egois, brengsek, tidak tahu malu, pengecut, brengsek, egois.” Gerutu sang gadis dengan pelan.

“Kau mengucapkan brengsek dan egois dua kali.”

“Biarkan saja. Aku memang sengaja.”

“Tapi kau tetap menyukai pemuda ini. Bukankah itu artinya kau seorang masokis?” Goda pemuda itu.

Gadis itu melepaskan pelukannya, memandang wajah pemuda itu dengan seringaian disana, gadis itu pun meninju kuat bahu sang pemuda. Pemuda itu mengaduh pelan. Gadis itu kembali memeluknya, pemuda itu membalas tak kalah eratnya.

“Aku membencimu.”

“Aku mencintaimu.”

“Aku benar-benar membencimu loh.”

“Iya, aku tahu, aku juga benar-benar mencintaimu.”

Oh, ternyata perasaan yang sudah lama itu, memiliki akhir yang memang sepatutnya ada.

untitled (2)

“Aw. Fuck.”

Gadis itu mengaduh dan merutuk lantaran ia baru saja menendang ban motornya terlalu keras. Alhasil, ia merasakan sakit di bagian jari kakinya.

Gadis itu tak berharap bahwa hari ini akan menjadi hari sialnya. For God’s sake, hari ini hari sabtu. Siapa yang tidak bahagia dengan hari sabtu? No one. Tapi hari ini gadis itu malah mendapat banyak kesialan.

Kesialan pertama, dia lupa membawa tugas rumahnya dan dengan cerobohnya meningalkannya di meja belajar.

Kesialan kedua, akibat kecerobohannya itu, pak guru mengeluarkannya dari kelas dan menyuruhnya berdiri di luar kelas sampai pelajarannya selesai.

Kesialan ketiga, ban motornya bocor. Apalagi bengkel jauh dari sekolahnya. Hari ini panas dan rasanya tersiksa sekali harus mendorong motor itu sampai ke tempat bengkel.

Selagi gadis itu sibuk berpikir tentang kesialan-kesialannya hari ini, seseorang menegurnya.

“Kau sedang apa?”

Oh ya, posisi gadis itu sekarang sedang berjongkok, mengamati ban motornya yang bocor. Karena mendengar suara, gadis itu lantas mendongak dan mendapati seseorang sedang melihatnya dengan pandangan bingung.

Pemuda itu teman sekelasnya. dan pemuda itu juga―

“Kenapa? Ban motormu bocor?”

―orang yang dia sukai.

Shit, ini terdengar mulai melankolis. Gadis itu sejenak mengesampingkan perasaan menggelitik di dadanya, karena ada masalah yang lebih penting. Ingat? Ban bocor.

Gadis itu hanya bisa mengangguk pelan dan berdiri. Ia tidak tahu harus berkata apalagi, ingin meminta bantuan pemuda itu, mulutnya tiba-tiba bungkam dan tidak bisa mengeluarkan satu patah katapun.

“Kau harus membawanya ke bengkel, kan?”

Gadis itu memandangnya tidak yakin, ia kembali memandangi ban motornya.

“Mau aku bantu?”

“Eh―”

tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara melengking seseorang.

“Kalian sedang apa?”

“Ban motornya kempes.” Pemuda itu berucap sambil menunjuk ban motor yang kempes itu.

“Wah, kenapa tidak di bawa ke bengkel?”

“Ini aku berniat ingin membantunya.”

“Kau? Kau membantunya? Terus aku pulang dengan siapa?”

Oh iya, gadis itu mendadak ingat bahwa gadis berisik tukang mengeluh ini adalah teman sekelasnya juga―tapi mereka tidak akrab― dan tetangga pemuda itu yang suka numpang pulang ke rumah. Dia menganggap gadis berisik itu sebagai parasit. Terserah mau berpikir dia jahat atau bagaimana. Gadis itu menganggapnya sebagai omongan di kepala yang jujur.

“Yasudah, kalian berdua pakai motorku saja. Aku yang akan mendorong motor ini. Kita jumpa di bengkel.” Ujarnya dan memberikan kunci motornya pada gadis itu. Belum sempat gadis itu membantah, pemuda itu sudah mendorong pergi motornya.

“Yasudah deh, kau yang bawa yah.” Gadis berisik―kita anggap saja seperti itu―itu berujar. Yah, tidak ada pilihan lain.

Gadis itu mengemudikan motornya dengan pelan, tidak ingin mendahului pemuda yang sedang mengiring motor dengan ban kempesnya.

Ia sedikitnya merasa bersalah, tapi senyum di wajahnya sangat tidak berbanding lurus dengan pikirannya.

Entahlah, sesaat gadis itu berpikir pemuda itu sedikit peduli padanya. Oke, hanya sedikit. Biarlah dirinya dengan pikiran roman picisannya. Sekedar berkhayal tidak masalahkan.

Akhirnya gadis itu memutuskan untuk sejajar dengan pemuda itu, jadi kalian bisa bayangkan seberapa lambat gadis itu membawa motor sekarang?

“Kau tidak apa-apa? Aku jadi tidak enak.”

“Tidak apa-apa. Ini gunanya laki-laki. Tidak mungkin aku membiarkan perempuan melakukan ini. Matahari sedang panas-panasnya.”

Gadis itu merasa tertampar dengan perkataan pemuda itu. Oh tentu saja, pemuda itu menolongnya karena ia seorang perempuan. Bukan karena ada sesuatu. Oke, gadis itu sendiri yang bepikir terlalu jauh.

Sesampainya di bengkel, gadis itupun mengembalikan motor dan kuncinya kepada sang pemuda.

“Terima kasih banyak. Kalian sudah bisa pulang, kok.”

“Iya, ayo pulang. Hari ini panas sekali.” Keluh si gadis berisik.

“Kau saja yang pulang, kau bisa bawa motorku. Aku akan menemaninya disini.”

“Eh?” Kaget kedua gadis itu.

“Kenapa begitu? Kan motornya sedang di perbaiki, kita tidak punya kewajiban lagi dong nungguin dia.”

Gadis itu hanya bisa diam saat mendengar gadis berisik itu berucap. Ada benarnya juga sih dia. Urusan mereka cuma sampai disini.

“Aku tidak ingin merepotkanmu lagi,” dan ucapan itu di hadiahi gelengan dari sang pemuda.

“Kalau aku bilang tidak mau pulang, yah tidak mau pulang.”

Gadis itu mendesah, dia bingung dengan dirinya sendiri, kenapa dia bisa suka dengan pemuda keras kepala itu.

Gadis berisik itu kembali mengeluh dan tidak di gubris oleh sang pemuda.

Gadis itu hanya bisa tersenyum melihat mereka berdua.

Tapi, entahlah. Setidaknya ia merasa, hari ini tidak terlalu sial juga.

untitled (1)

Ada seorang gadis kecil, sedang duduk di pinggir danau. Ia sedang melempari air danau dengan kerikil-kerikil di sekitarnya. Seseorang mendatanginya. Seorang pemuda. Penampilannya biasa saja. Hanya menggunakan kemeja putih polos, celana bahan berwarna hitam dengan sepatu pantofel berwarna sama dengan celananya. Perawakannya jangkung, kurus dan berkulit pucat. Rambut dan matanya sehitam obsidian.

“Sedang apa anak kecil sepertimu sendirian di tempat seperti ini?”

Anak itu kaget, ia memandang pemuda asing itu dengan tatapan waspada. Belakangan ini, ia sering mendengar berita tentang anak kecil yang hilang karena di culik oleh orang tak dikenal.

“Itu bukan urusanmu, paman asing.” jawab anak itu ketus.

Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya, kemudian mengambil tempat di sebelah sang gadis kecil.

Paman asing? Aku belum terlalu tua untuk di panggil seorang paman.” dia terkekeh.

“Tapi kau cukup tua untuk anak kecil seumuranku.” ucapnya membenarkan diri.

Pemuda itu tidak ingin menyulut pertengkaran, dia hanya mengangkat bahu tanda tidak mempermasalahkannya lagi.

“Kalau begitu, apa yang kau lakukan di sini? Kau kabur dari rumah.”

Bukan pertanyaan. Melainkan pernyataan.

“Bukan urusan paman.”

“Kau bertengkar dengan saudaramu.”

Berupa pernyataan lagi.

“Bukan urusan paman.”

“Kau sedang berbicara dengan Tuhan?” Pemuda itu menyeringai.

“Bukan urus-” Mendadak mata gadis itu melotot.

Tepat sasaran.

“Oh, ternyata aku benar.”

Gadis kecil itu terlihat kesal. sangat kesal. “Bagaimana paman tahu? Itu hanya rahasiaku dengan Tuhan.”

“Hm, bagaimana yah? Sebut saja, paman bisa membaca pikiran manusia.”

“Tapi aku sedang tidak berpikir.” ujarnya dingin.

Pemuda itu hanya tertawa mendengar jawaban polos dan dingin gadis kecil itu.

“Apa yang kau bicarakan dengan Tuhan?”

Gadis itu menaikkan sebelah alisnya, kemudian berujar, “bukannya paman bisa membaca pikiranku, seharusnya paman tidak perlu bertanya.”

Telak.

Kembali pemuda itu terkekeh, gadis kecil ini sangat pintar.

“Aku hanya ingin mengobrol denganmu, apakah tidak boleh?”

“Aku tidak tahu apakah aku boleh mengobrol dengan paman asing sepertimu.” Tekannya.

“Tapi kita sudah memulainya sejak tadi?” ujar pemuda itu tak mau kalah.

“Tsk.”

Gadis kecil itu menyerah.

“Apa yang kau bicarakan dengan Tuhan?” Pemuda itu kembali bertanya. Suaranya berubah dingin.

“Aku-”

“Tidak apa, aku bisa menyimpan rahasia.”

“Aku sedang kesal dengan Tuhan.” Ujarnya cepat.

Pemuda itu tersenyum kecil, “Kenapa kau bisa kesal dengan Tuhan?”

“Dia tidak memberikan apa yang kuinginkan. Dia tidak mengabulkan doaku. Sepertinya Dia membenciku.”

“Kau yakin Tuhan membencimu? Bagaimana kau tahu?”

“Buktinya, dia tidak mengabulkan permintaanku. Mungkin Tuhan sudah pergi dariku.”

Pemuda itu diam. Wajahnya berubah menjadi tidak terbaca.

“Mungkin, kau yang sudah pergi meninggalkan Tuhan.”

“Tidak mungkin, aku selalu-”

“Karena kau tidak memercayainya lagi. Kemudian kau meninggalkannya.” Omongan itu dipotong dengan cepat.

Seketika mata gadis kecil itu berair dengan pipi memerah.

Ia kemudian beranjak dan berlari pergi dari tempat itu.

BRUK!

Secara cepat kejadian itu terjadi. Mungkin gadis kecil itupun tak akan percaya bahwa semuanya akan menjadi seperti ini.

Badan kecilnya tertabrak mobil dan terpelanting jauh. Tubuhnya bersimbah darah dengan mata masih terbuka. Ia masih bisa melihat sosok paman asing yang berdiri jauh dari dirinya. Ia tersenyum kemudian dengan perlahan menutup matanya.

Pemuda itu masih disana, melihat dengan jelas ketika gadis kecil itu menutup matanya.

“Setidaknya, Tuhan sudah mengabulkan permintaannya.”

Dan pemuda itu menghilang.

.

Always Near You

Cerita ini hanya fiktif belaka. Apabila ada kesamaan tokoh, karakter, alur, tempat dan lain sebagainya itu merupakan sebuah kebetulan belaka tanpa ada maksud/tujuan tertentu.

.

Enjoy

.

Ekor mataku tertuju pada satu bangku kosong di ujung ruang kelas. Bangku itu kosong sejak dua hari yang lalu. Kemana gerangan si pemilik bangku itu? pikirku. Hari ini hari ketiga, dia juga tidak masuk sekolah. Akhirnya aku penasaran, siapa yang tengah duduk di sana. Aku bertanya pada teman yang duduk di sebelahku.

”Hei, kemana anak yang duduk di sana?” tunjukku pada bangku yang ada di ujung.

”Oh, dia. Yang duduk di situ Kira. Tidak heran jika kau tidak mengenalnya. Dia memang sering tidak masuk karena selalu sakit. Mungkin dia memiliki penyakit yang gampang kambuh.” Jawabnya cuek. Aku hanya diam mendengarkan, namun kucerna semua itu. Kemudian dia menatapku dengan aneh.

”Ada apa? Kenapa Zee mencarinya. Kalian ada masalah?” tanyanya menebak.

”Bagaimana mau punya masalah, kenal saja tidak!” jawabku sambil tertawa garing. Dia hanya membalas dengan tersenyum. Lalu keadaan kembali seperti semula seperti saat aku belum menanyakannya.

Esoknya aku masih duduk di tempatku. Masuk kelas masih ada waktu sepuluh menit lagi. Aku pun melirik ke pintu. Berharap orang yang kucari akan datang. Sudah lima menit berlalu, dan dia pun belum juga muncul. Sepuluh menit itu pun habis sia-sia dengan ke tidak hadirannya. Guru pun masuk ke dalam kelas, menandakan pelajaran akan segera dimulai. Aku memalingkan pandanganku dari pintu, dan menghadap ke depan. Semua penantianku sia-sia. Dia tidak kunjung datang. Sampai akhirnya terdengar suara yang lemah, ”Maaf Bu guru , saya terlambat.”

Ibu guru yang melihat dia begitu lemah, hanya memberinya nasihat tanpa harus memarahinya. Dia hanya mengangguk dan berjalan pelan menuju tempat duduknya. Aku menatap ke arahnya yang masih berkutat dengan tasnya. Aku pun memalingkan lirikanku saat mataku dengan matanya bertemu pandang. Dia hanya tersenyum, dan aku balas dengan tersenyum.

TENG TENG TENG

Bel istirahat berbunyi. Semua anak-anak dalam kelas berhamburan keluar kelas, bermaksud menuju kantin. Aku masih duduk ditempatku, sesekali melirik ke arah Kira yang sepertinya mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Kotak makan siang. Sepertinya dia berinisiatif untuk membawa bekal sendiri. Mungkin pandanganku masih tetap ke arahnya jika seseorang tidak menyapaku.

”Zee, mau bareng?” ajak temanku yang bernama Vena sambil tersenyum. Aku hanya membalas sambil tersenyum tipis, ”Tidak terima kasih.” Setelah percakapan singkat itu, aku kembali menatapnya yang dengan tenang memakan bekalnya. Entah ada dorongan apa dan suruhan siapa, tiba-tiba saja aku sudah ada di hadapannya. Duduk di depannya.

”Mau?” tawarnya padaku. Aku hanya menggeleng, ”Kamu Zee  kan?” tanyanya, dan aku hanya mengangguk, ”kamu kan yang memenangkan lomba karate tingkat kota bulan lalu?” tanyanya. Aku mengangguk lagi. Dia tersenyum dan aku menatap aneh padanya. ”Enak ya seperti Zee. Bisa melakukan apa pun yang Zee suka,” tuturnya pelan sambil tersenyum kecut.

”Kenapa?” tanyaku penasaran.

”Karena aku tidak akan bisa melakukan itu,” ujarnya.

”Aku tahu itu. Tapi kenapa?” tanyaku lagi.

”Jantungku lemah, karena itu aku jarang masuk sekolah. Aneh ya, laki-laki tidak bisa melakukan apapun yang seharusnya di lakukan laki-laki,” ujarnya tersenyum kecut. Aku tahu senyum itu, senyum kesedihan. Menyedihkan sekali, ”Oh ya, ada apa Zee ke sini. Kok tumben-tumbenan banget” tanya  Kira padaku.

”Tidak hanya ingin berbicara denganmu saja,” jawabku seadanya.

”Oh begitu.” jawabnya sambil kembali memakan bekalnya. Aku diam sambil memandang wajahnya yang tirus, ”Apa penyakitnya tidak bisa sembuh?” tanyaku membuatnya kaget, namun ia tersenyum lembut padaku, ”Kata dokter waktuku tidak lama lagi. Suatu saat nanti, cepat atau lambat Tuhan akan segera mencabut nyawaku.” ucapnya biasa. Seperti tidak ada tekanan sama sekali.

”Kau tidak takut?” tanyaku. Pertanyaan yang memang sesuai untuk anak kelas 5 SD sepertiku yang masih berpikir seperti anak-anak. Walaupun aku tahu jawabannya pasti sangat takut. Itu biasa.

”Tidak.” jawabnya tenang. Jawabannya barusan sempat membuatku tersentak. Aneh, semua orang pasti akan takut dengan kematian, tapi dia berbeda, ”Kenapa?” tanyaku yang mulai serius, ”Ibuku bilang, Semuanya Tuhan yang mengatur. Jika memang seperti itu, aku tidak apa-apa. Ibuku juga sering berkata padaku, aku ini seperti kupu-kupu, yang bila sayapnya disentuh maka akan mati. Aku pun begitu. Tidak bisa melakukan apa-apa. Selalu tergantung pada orang lain,” jawabnya getir, membuatku sedikit merinding.

”Maaf, malah jadi curhat,” ujarnya padaku, ”Tidak apa. Aku suka berbicara dengan orang sepertimu.” jawabku, ”Terima kasih.” jawabnya sambil tersenyum lembut. Walau aku tahu senyum itu tak akan bertahan lama.

Besoknya Kira kembali tidak masuk ke sekolah. Aku yakin sakitnya pasti kambuh lagi. Kasihan. Pikirku. Sekolah pun usai, aku menghampiri Pak Yoshi, supir Pribadi ayah. Aku memintanya untuk mengantarkanku ke alamat yang ada di secarik kertas. Alamat yang ku dapat dari guruku.

Kami pun sampai di rumah yang lumayan besar. Aku berpikir Kira memang anak orang kaya, namun kesehatannya tak mndukung. Aku menyuruh pak Yoshi tetap menunggu di mobil biar aku saja yang masuk. Aku menekan bel beberapa kali, hingga seseorang dari dalam membukakan pintunya padaku. Yang kutemui itu adalah wanita paru baya yang masih kelihatan cantik. Mungkinkah dia ibu Kira?

”Maaf, saya teman Kira. Nama saya Zee. Saya datang bermaksud menjenguk Kira.” jawabku sopan ala anak SD. Wanita itu hanya tersenyum lembut dan mempersilahkan aku masuk. Dia mengantarku ke sebuah ruangan. Yang bisa kutebak adalah kamar Kira. Wanita itu mempersilahkan aku masuk ke dalam kamar itu. Aku sekilas melihat wajahnya. Tersirat wajah yang sedih namun seperti sedikit tenang karena sesuatu. Apa karena kedatangan ku. Pikirku. Setelah itu wanita itu pun keluar dan menutup pintu.

Aku melihat ke atas tempat tidur yang cukup besar. Terlihat anak kecil sebayaku yang tengah tertidur pulas di atas ranjang besar itu. Tapi yang mengenaskan adalah di punggung tangan kirinya tertanam jarum infuse yang menyalurkan bermacam-macam cairan berwarna merah, putih, kuning, dengan selang pernapasan di hidungnya dan mesin pendeteksi jantung. Semua alat-alat yang ada di rumah sakit tersedia di sini. Kamar ini sama saja dengan rumah sakit, tak ada bedanya. Pikirku.

Aku duduk di sebalah Kira yang sedang berbaring. Kulihat wajah yang tirus dan tubuhnya semakin lemah. Sedih melihat seseorang yang seperti itu di depan mata. Ingin menangis rasanya. Pikirku. Kelopak mata itu pun perlahan mulai terbuka, walau lambat. Dengan refleks cepat, aku langsung memanggil wanita tadi. Wanita itu langsung masuk ke dalam kamar, matanya berbinar saat melihat Kira bangun dari tidurnya, ”Kau sudah sadar, nak?” ujarnya seraya memeluk sayang tubuh lemah Kira, dan mengelus pundaknya sayang.

”Aku tidak apa-apa ibu. Loh, kenapa ada Zee di sini?” tanyanya heran dengan keberadaan diriku. Aku pun menjelaskan maksud kedatangan ku ke sini, ”Oh, begitu. Terima kasih. Aku senang sekali. Zee adalah orang pertama yang mengunjungiku,” ucapnya tersenyum. Walau dalam hati, sakit rasanya, ”Sudahlah, kau jangan terlalu banyak bergerak. Kau kan masih sakit. Lebih baik istirahat saja dulu!” ucapku. Dia hanya membalas sambil tersenyum.

Setelah mengetahui kalau dia baik-baik saja, aku buru-buru kembali pulang. Tak mau mengganggu istirahatnya. Mulai dari hari itu hingga seterusnya aku sering menjenguknya jika dia memang tidak hadir. Seperti biasa, penyakitnya kambuh lagi. Itu sudah biasa. Dan mulai dari situlah tumbuh rasa persahabatan antara kami. Menjadi teman yang sulit dilepaskan.

Yang kukhawatirkan pun terjadi, sudah seminggu dia juga belum masuk. Saat aku menjenguknya, dia hanya berkata kalau dia baik-baik saja. Padahal aku tahu kalau jantung lemah itu sangat berbahaya. Walaupun aku masih kelas 5 SD, aku tahu resiko penyakit itu.

Sampai hari ke sepuluh, sejak seminggu yang lalu. Aku kembali menghampirinya. Di tanganku, seperti biasa aku membawakan buah-buahan yang di titipkan ibuku.

Aku juga ingin sekalian minta maaf, karena semalam, juga dua hari yang lalu aku tidak sempat mengunjunginya. Karena itulah aku bersemangat mengunjunginya. Seperti biasa, aku menyuruh Pak Yoshi untuk tetap menunggu di dalam mobil. Dengan semangat, aku mengetuk pintu rumah Kira yang besar. Dari balik pintu, keluar wanita yang seperti biasa selalu membukakan pintu untukku. Siapa lagi kalau bukan ibunya Kira.

”Maaf tante, aku mengganggu,” jawabku sambil seraya masuk ke dalam, saat ibu Kira mempersilahkan dirisku untuk masuk.

Tidak seperti biasanya, dia malah menyuruhku untuk duduk di sofa ruang tamu. Biasanya dia akan langsung mengantarkan aku ke kamar Kira. Tapi, kali ini tidak. Seketika membuat hatiku gelisah dan tidak tenang.

Tiba-tiba, dari balik pintu kamar, ibu Kira datang dengan sebuah surat ditangannya. Dengan raut wajah datar ia memberikan surat itu padaku. Aku menaikkan sebelah alisku. Apa ini….surat, aneh sekali. Pikirku. Dia menyuruhku untuk membuka surat itu dan membacanya. Aku awalnya merasa aneh, namun perlahan kurobek amplop surat itu.

Terlihat tulisah indah Kira. Namun isi surat itu sangat aneh. Aku membacanya perlahan, hingga mataku terasa panas.

Setetes…

Terima kasih Zee, telah mau menjadi temanku. Aku sangat senang saat pertama kali kau megajakku untuk berbicara. Aku juga senang saat kau menjengukku. Menemaniku saat aku mengalami masa-masa sulitku.

Dua tetes…

Kau adalah teman yang akan kukenang selamanya. Bahkan dalam kematian sekalipun. Akan terus kukenang.

Tiga tetes…

Selamanya pun kau begitu. Jangan pernah lupakan aku. Berjanjilah. Aku bangga menjadi temanmu. Sangat behagia, kau sudah seperti saudaraku sendiri. Aku akan terus bersamamu dan mengawasimu dari atas sana. Selalu bersamamu. Selalu. Berada didekatmu. Jadi kau tak perlu harus merasa kehilangan. Kau akan tetap menjadi sahabatku. Selamanya. Selalu didekatmu.

Sincerely

Kira

 Air mata yang sedari tadi tertahan dan hanya perlahan jatuhnya, semakin menjadi saat isak tangisku tak terbendung lagi, dan memuntahkan semua kesedihan ku lewat sesuatu yang dinamakan air mata itu. Ibu Kira hanya mengusap sayang pundakku. Setidaknya dapat menenangkan sedikitnya kesedihan ku.

”Kenapa tente tidak memberi tahu ku langsung?” tanyaku serak. Dan dia hanya diam.

”Kenapa, tante?” teriakku lagi. Memang kedengaran tidak sopan, tapi emosiku diluar kendali, ”Kira menyuruh tante untuk tidak memberi tahumu, jika kau memang tidak mencarinya. Dan juga surat itu, jika Zee tidak datang, jangan pernah sekali pun diberikan padamu” ucap ibu Kira yang juga sudah mulai melelehkan air mata dari sudut matanya. Aku hanya diam. Tak tahu apa yang sebenarnya dipikirkan Kira sebelum ia pergi. Tapi aku tak menghiraukan itu.

”Kalau Zee boleh minta tolong, bisakah Tante mengantarkan Zee ke makam Kira?” pintaku padanya dengan nada mengiba. Diwajahnya terpampang wajah khawatir. Aku tahu itu. Namun ia pikirkan sekali lagi permintaanku. Dan akhirnya ia menerimanya. Bersama Pak Yoshi, aku dan ibu Kira berangkat.

Tempat itu adalah untuk peristirahatan terakhir manusia yang tak lain adalah pemakaman. kami menyusuri makam demi makam untuk mencari makam seseorang yang paling penting untukku. Akhirnya kami berhenti di depan makam baru yang tertata rapi.

Kira Canra

29 Januari 1995 – 03 oktober 2005

 

aku menatap nisan itu dengan sendu. Tidak ada bunga lain disitu, artinya kami yang pertama datang ke sana. aku meletakkan bunga yang terangkai dengan cantik di atas makam Kira.

”Orang yang tertidur disini tidak dapat bangun lagi. Itu disebut kematian. Benarkan tante?” tanyaku tiba-tiba membuat ibu Kira sempat tersentak dengan ucapku. Namun ia hanya menatap nanar pada nisan itu, ”Iya.” jawabnya lemah. Setelah puas melihat nisan itu, ibu Kira menyentuh pundakku ringan. Mengartikan bahwa secepatnya kami pulang, karena langit sudah mulai mendung. Aku hanya mengangguk dan mengikuti ibu Kira dari belakang. Sebelum berlalu, dari agak kejauhan aku kembali menatap makamnya. Mataku terbelalak, seseorang yang sangat aku kenal dan penting bagiku, sedang memakai pakaian putih dengan cahaya putih mengitarinya, indah sekali seperti…malaikat.

Perlahan, tersungging senyum diwajahku, menatap Kira yang juga tersenyum lembut padaku. Setelah cahaya itu hilang seiring dengan suara gemuruh langit, aku segera masuk ke dalam mobil. Karena tetes demi tetes air hujan sudah mulai berjatuhan. Dengan cepat, Pak Yoshi melajukan mobil dan membawa kami pergi dari pemakaman itu.

Kau anak suci tak berdosa. Sampai, langit pun menangis untukmu.

.

fin

.

Ini cerita pendek yang saya buat lima tahun lalu. Karena sayang di biarin di laptop nggak ada yang baca (lumayan lama juga nyari ini file di document-__-), lebih baik saya post disini :). 

SENJA

Cerita ini hanya fiktif belaka. Apabila ada kesamaan tokoh, karakter, alur, tempat dan lain sebagainya itu merupakan sebuah kebetulan belaka tanpa ada maksud/tujuan tertentu.

.

Enjoy

.

“Aku suka padamu.”

“Huh?”

“Aku sudah lama suka padamu. Tepat saat pertama kali kau mengucapkan janji siswa di tahun pertama kita.”

“Ah, uhm… jadi?”

“Jadi? Ja-jadi, kau mau menerimaku?”

“Em, maaf. Aku tidak tertarik padamu. Mungkin kau bisa cari orang yang lebih baik dari pada aku.”

“Ah, oh, be-begitu. Baiklah. Haha.”

“Maaf sekali.” Dia pun pergi dari atap gedung sekolah, meninggalkan gadis yang patah hati itu seorang diri.

Gadis itu hanya mendesah. Awalnya menunduk kemudian  ia palingkan wajahnya ke langit merah di angkasa. Sore ini indah, tidak cocok dengan suasana hatinya tapi baik juga untuk menghibur dirinya. Angin lembut membelai dasi, rok selutut dan rambut kucir kudanya.

“Huh, memang tidak bisa ya? Haha.” Ia hanya bisa tertawa kemudian melangkah menuju dinding pembatas yang tingginya hanya sepinggang dan kemudian duduk di atasnya.

“Mungkin ini yang tebaik―” Dia tersenyum dan kemudian bernyanyi.

Fell because of grief, mourn

…is never suit us well, dear

I’m all alone, after all

“―dan yang terakhir.”

#

TAP TAP TAP TAP TAP TAP

BRAAK!

“Azura!” teriak seseorang sambil menbuka pintu dengan kasar. Peluhnya berjatuhan dan deru nafasnya memburu.

Gadis yang dipanggil Azura berbalik, senyum malas ia ulaskan, “hei Rei,” sapanya. Reina memandangnya kaget, anak itu tampak baik-baik saja―dimatanya. Ia bejalan mendekati dinding pembatas dan ikut duduk di sebelah Azura.

“Bagaimana?” Tanyanya setengah antusias.

“Hm, dia menolakku,” ujar Azura tanpa basa basi. Reina hanya bisa tersenyum dan menepuk pelan kepalanya.

“Sudahlah, mungkin dia bukan yang terbaik untukmu.” Azura kemudian  tersenyum.

“Sakit juga sih mengingat aku sudah punya perasaan padanya selama tiga tahun.” Reina hanya bisa angkat bahu dengan wajah yah-mau-apa-lagi dan kemudian keduanya tertawa.

“Dimana Brian?” Azura bertanya, Reina menggeleng.

“Entahlah, mungkin sedang ada urusan dengan guru,” jawabnya asal. Tidak asal juga sih, soalnya tadi Reina melihat sendiri Brian sedang bersama wali kelasnya.

Azura beroh kecil dan kembali melihat hamparan merah jingga di hadapannya sembari menggoyangkan kaki panjangnya ke depan dan ke belakang.

BRAK

Pintu kembali dibuka dengan kasar untuk kedua kalinya. Kedua gadis itu menoleh ke belakang dan mendapati sang sahabat lelaki tersayang menghampiri mereka dengan senyum lelah. Ia bergumam tak jelas lalu mengambil tempat di sebelah Azura.

“Kau kenapa? Keringatan sekali?” Reina buka suara, Azura hanya menggangguk setuju.

“Tadi wali kelasku sibuk memberiku tugas ini-itu,” keluhnya. Kedua sahabatnya hanya bisa menertawai kesengsaraannya.

“Dari pada kalian menertawaiku lebih baik kalian cerita bagaimana hasilnya? Ditolak?” ujarnya to the point. Reina memukul keras kepala Brian atas ucapannya yang tak pikir panjang itu. Azura hanya bisa tertawa pelan.

“Kalau ngomong hati-hati dong? Walaupun kenyataannya memang seperti itu, tapi lihat-lihat dong situasinya.” Reina berkoar-koar menanggapi kebodohan sahabat lelakinya. Brian menatap Azura setengah tak percaya.

“Tapi kau tidak sedih? Kau tidak menangis?” Azura tertawa. “Inginnya seperti itu, tapi tidak bisa.”

Brian tidak bisa menahan diri untuk tidak memukul dan mengelus kepala Azura dengan sayang. “Haha, ini Azuraku. Azura yang kuat dan ceria. Aku tahu sebenarnya kau sangat sakit hati, tapi caramu menanggapi perasaan itu membuatku kagum.” Azura hanya tersenyum, begitupun Reina.

“Iya, untuk apa laki-laki tidak jelas seperti Dave, kau masih punya kami,” ujar Reina bangga. Brian menggangguk setuju.

“Yah, kami sahabatmu, temanmu, musuhmu, kakakmu, adikmu dan juga kekasihmu,” tambah Brian. Azura tertawa keras kemudian merangkul kedua sahabat tercintanya.

“Yah, kalian adalah segalanya untukku. Terima kasih.”

Tiba-tiba Brian melantukan sebuah lagu. Azura dan Reina saling pandang kemudian tertawa dan memutuskan mengikuti alunan lagu dari Brian.

This is the day, the day that I kiss your cold cheek

The day that the death is too kind to separate us

And too mischief to slow me down

Is there someway for me

To confess?

Between flesh and bones

Between tongue and theeths

Between shore and sea

Locking dead in

Away, away from home

Brian mengeratkan rangkulannya ke tubuh Azura dan berbisik―bisikan yang sebisa mungkin tidak terdengar oleh Azura, “kau sahabatku, tak akan kubiarkan siapapun menyakitimu, itu janjiku.” Azura menoleh kearahnya, merasa Brian baru saja membisikkan sesuatu padanya. Tapi Brian hanya tersenyum, tidak berkata. Keduanya kembali larut dalam lantunan melodi.

Fell because of grief, mourn

…is never suit us well, dear

I’m all alone, after all

Lantunan nada itu terus mengalir seiring dengan suara ambulance dan teriakan banyak orang di bawah mereka yang semakin membahana.

Hari itu juga adalah hari terakhir Azura untuk merasakan cinta dan hari terakhir pula untuk Dave merasakan hidup.

.

fin

.

 

How is it? Sounds creepy? It’s just a story, don’t take it so seriously haha *slaped*

Setelah semua tuntutan sekolah terlaksana, dari UTS, Ujian Semester dan Ujian Nasional (UN) akhirnya saya berkesempatan untuk nge-blog lagi. Kalau di ingat-ingat saya nge-post selalu saat liburan sekolah, jadinya jarak antara post satu dengan yang selanjutnya jauh banget-__-. Sekarang saya mau nge-post sebuat cerita pendek yang sebenarnya udah saya buat beberapa bulan yang lalu dalam waktu yang singkat. Cerita ini di buat hanya untuk ajang senang-senang dan pelampiasan stress. Nothing more. Just read it and don’t forget to leave comments 😀

Dan untuk lirik lagu yang dinyanyikan oleh Azura dan kawan-kawan itu adalah sebuah puisi karya Azalea Maurish, senpai saya di dunia per-fanfiksi-an, dan tentunya menjadi inspirasi saya dalam membuat ceita ini. So. it’s not mine, definitely hehe. She wrote really a lot of fanfictions with heavy and dark theme that I really love the most haha. Thanks for making such a great stories, senpai 😀

Lost Heaven

Cerita ini hanya fiktif belaka. Apabila ada kesamaan tokoh, karakter, alur, tempat dan lain sebagainya itu merupakan sebuah kebetulan belaka tanpa ada maksud/tujuan tertentu.

.

Enjoy

.

kaki Yuna berjalan dengan gontai menuju rumahnya. Ia menghela nafas sejenak. Segan rasanya pulang ke rumah sendiri. Yang ada di sana, hanya akan terdengar teriakan kesakitan ibunya, tamparan kasar oleh sang ayah, tangisan meminta ampun dari sang ibu, dan makian kotor nan kasar dari sang ayah. Semua menjadi satu dan dikendalikan oleh amarah dan egoisnya suatu manusia. Sedangkan Yuna dan sang kakak, Kei hanya dapat mengurung diri di kamar sambil mendengar bahkan menyaksikan itu semua dengan mata kepala mereka sendiri. Yuna bertanya, kapan dia akan mati? tapi, apakah mati bisa menyelesaikan masalah? Yuna sama sekali tidak ambil pusing soal itu. Bahkan dia sama sekali tidak pernah memikirkan dan mau membayangkannya.

Suara derit pagar berkarat membuyarkan lamunan Yuna. Kakinya berhenti di depan rumah mungil dengan taman kecil yang indah. Memang terlihat sangat biasa. Tapi dulu, sebelum ayahnya menuduh ibunya berselingkuh dan memulai perkara ini? Rumah mungil itu sangatlah hangat. Terlalu banyak cinta hingga Yuna tidak akan pernah berharap untuk mati saat itu. Tapi, kini jalan pikirnya sudah berubah. kematian adalah hal yang sangat ia tunggu. kenapa tidak bunuh diri saja? Pertanyaan itu pernah terlintas di benak Yuna. Tapi, sebuah bisikan menghapuskan niatnya. ‘Jika kau bunuh diri dan mati, bukankah kau jadi terlihat rendahan di mata mereka? Dimata Tuhan?’. entah siapa yang berbisik itu? Yuna tidak mengubrisnya.

Saat ingin mengambil langkah masuk kedalam zona kehidupan barunya yang kelam, panggilan lembut seseorang membuyarkan lamunannya. “Yuna?” Yuna menoleh, mendapati sang kakak menatapnya dengan khawatir, dan berdiri tidak jauh dari tempat dia berdiri saat ini. “Kakak,” hanya itu yang bisa disuarakan oleh Yuna. Kei mendekatinya dan mengajaknya untuk masuk. Dari dalam rumah, sudah terdengar suara teriakan ibu dan makian dari ayah. Kei menggeram dengan jijik, sembari tetap memegang dengan lembut tangan Yuna. Sedangkan Yuna sendiri, tidak berekspresi apa-apa.

“Ayah, berapa kali ibu katakan. Ibu sama sekali tidak berselingkuh. Dia hanya teman kuliah ibu. Percayalah ayah !” sanggah ibu sambil terisak. Yuna dan Kei masuk kedalam rumah. Pandangan kedua orang tuanya tertuju pada mereka. Sang ibu langsung menghampiri sambil mengusap pipinya yang basah olah air mata.

“Kalian sudah pulang. Lebih baik cepat mandi dan ganti baju, lalu makan siang”. Ujar ibunya sambil tersenyum. Kei memalingkan wajahnya dengan ekspresi tertekan, dan ibunya menyadari akan hal itu. Sedangkan Yuna, dengan wajah polosnya tetap memandang wajah sang ibu tanpa berkedip lalu berkata, “ibu menangis?” Pertanyaan yang memang semestinya di lontarkan anak kelas 2 SD. Ibunya tersenyum lembut, sambil menarik bahu Yuna agar mendekat kepadanya.

“Tidak. Tadi ada debu yang masuk ke mata ibu. Jadi ibu kelilipan. Bukan berarti ibu menangis kok, sayang.” Sanggah sang ibu cepat. Yuna tersenyum. Dengan cepat Kei menarik Yuna dari ibunya dan membawanya ke lantai dua. Kamar mereka.

Tinggalah sang ibu dengan sang ayah yang masih menunduk ke arah lantai, “kau boleh marah padaku, tapi jangan libatkan anak-anak dalam masalah sepele seperti ini,” ucap sang ibu pelan, sang ayah mendongkak dengan pandangan wajah menahan jijik. Sang ibu tersenyum kecut, “lebih baik kita akhiri saja semua ini, jika memang itu maumu,” ucap sang ibu tanpa intonasi dan kembali ke dapur, membiarkan sang ayah yang terpuruk seorang diri.

Di lantai dua, Kei sibuk memasangkan dress cokelat pastel pada adiknya. Yuna diam tak bergerak. Dress itu hadiah ulang tahun-nya dua bulan yang lalu. Yang ia dapat dari sang kakak. Kakaknya rela kerja part time hanya untuk membelikannya hadiah dari hasil jerih payahnya sendiri. Sungguh bahagia hatinya.

“Kakak, tadi ibu dan ayah kenapa?” Tanya Yuna dengan mata sayu. Kei yang mendengar pertanyaan itu, serasa ada dentuman keras di dadanya. Air matanya ingin menetes, tapi perasaan egoisnya melarang itu terjadi.

Kei mengancingkan kancing terakhir di bagian kerah dress Yuna. Dia menatap Yuna dalam, sambil tersenyum. “Hahaha, tidak apa-apa. Yuna tidak perlu mempermasalahkan itu. Okay?” Yuna menatap kakaknya sendu. Dengan seulas senyum polos terukir di wajahnya.

Kei tersenyum, mengelus kepala Yuna lembut, “okay, ayo kita ke bawah sekarang. Kau pasti sudah lapar,” Yuna mengangguk antusias. Dengan manja ia bergelayut di tangan Kei.

Di ruang makan, hanya ada ibunya yang bertopang dagu disana. Pandangannya mengarah ke mereka, tapi … pikirannya tidak.

“Ibu,” panggilan lembut Yuna membuyarkan lamunan ibunya. Dia tersentak, menatap kedua anaknya yang juga menatap balik kearahnya.

“Kalian sudah selesai, kalau begitu ayo kita makan,” panggil sang ibu. Kei menggeser kursi agar mempermudah Yuna untuk duduk. Ibunya mengambilkan nasi ke piring mereka. Kei melihat kearah ibunya. Ibunya tampak kacau sekali. Matanya yang hitam kelam, kini tidak memiliki cahayanya lagi. Bahkan Kei sempat ragu, apakah bayangannya masih terlihat di mata ibunya. Lalu, Kulitnya memucat. Bawah matanya menghitam. Kei miris melihatnya. Padahal, ibunya masih sangat muda. Tapi, keadaannya berbalik dengan umurnya.

Kei dan sang ibu sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga pertanyaan dari Yuna membuat mereka berdua tersentak, “ibu, dimana ayah?” Mata sang ibu melebar. Sama halnya dengan Mata Kei. Ibunya menatap Kearah Kei, yang sepertinya acuh tak acuh. Kei sadar kalau ibunya melirik ke arahnya. Tapi malas baginya untuk membalas tatapan itu. Tatapan putus asa yang ia benci.

Ibunya tersenyum, “ayah bilang dia harus kembali ke kantor. Masih ada pekerjaan yang belum dia selesaikan”. Yuna tidak bergeming, dan melanjutkan makannya. Ibunya tersenyum kecut. Kei pun sama sekali tidak bergeming mendengarnya. Ia tahu, itu adalah perkataan bohong. Dan sayangnya, Yuna pun mengetahui hal yang sama.

Seusai makan siang itu, Kei ambil giliran mencuci piring kotor. Kei mencuci piring itu dengan santai. Wajahnya tak berekspresi, sampai seseorang memegang bahunya, Kei tersentak. “Kei…” bisik sang ibu. Kei tidak bergeming dan tetap terus mencuci. Ibunya mendesah putus asa. Namun, walau seperti itu sang ibu tetap melanjutkan perkataannya, “setelah mencuci piring, tolong datang ke kamar ibu?” Kei hanya mengangguk, tanpa menyuarakan apapun sama sekali.

Kei membersihkan tanggannya dari busa, lalu mengeringkannya. Pikirannya sekarang tertuju pada Yuna. Sebentar, sebelum ia pergi kekamar ibunya, terlebih dahulu ia ke kamar sang adik. Melihat, apakah dia sudah tidur atau belum. Kei menaiki anak tangga kayu itu dengan langkah ringan, agar tidak terdengar oleh ibunya. Di kamar, Kei membuka pintu tanpa bersuara dan melihat sang adik tertidur pulas. Ia menghela nafas tenang, lalu menutup pintu itu dalam diam.

Kini kei berdiri di depan kamar ibunya. Masih berdiri, tanpa melakukan apa-apa. Butuh persiapan baginya untuk bertatap muka dengan sang ibu. Berdua. “Kei, masuklah!” Kei tersentak, matanya melebar. Ibunya tahu kalau dia ada di luar, tanpa suara. Dengan santai, Kei pun masuk ke dalam. Di dalam sudah ada sang ibu yang duduk di pinggiran tempat tidur sambil tersenyum padanya. Kei menutup pintu, dan mendekati ibunya. “Duduklah!” perintah sang ibu. Kei mengikuti.

“Ibu mau bilang apa? lebih baik cepat, karena kei masih punya tugas yang belum di selesaikan”. Ucapnya dingin, dan sekali lagi ibunya hanya tersenyum. “Ibu akan bercerai dengan ayahmu,” seperti sebuah tusukan pedang, begitu menancap terasa di dada Kei. Dia tahu, hari ini pasti akan datang. Tapi, Kei tetap memasang wajah datarnya. “Hanya itu?” Tanya Kei, membuat ibunya menatapnya penuh kesedihan.

Tangan ibunya terulur, menyentuhkan tangan dinginnya ke tangan hangat Kei. “Ibu punya satu pesan, berjanjilah jika ibu tidak ada, kau harus tetap bersama Yuna. Kau harus menyayanginya, melindunginya. Anggap dia adalah harta satu-satunya yang kau miliki. Okay?” Kei menatap ibunya penuh tanda Tanya. Seperti kata-kata terakhir saja? Apa itu artinya hak asuh akan jatuh ke tangan sang ayah? Atau mungkin, sesuatu yang lebih dari itu akan terjadi? Sesuatu yang mungkin bisa mengoyakkan batinnya. Kei tidak memikirkannya. Sekarang yang ada di pikirannya, adalah Yuna.

“Baiklah, kalau memang itu permintaan ibu,” jawabnya. Ibunya semakin erat menggengam tangan hangat Kei. Sebelum akhirnya memeluknya tanpa di balas oleh Kei. Kei kini sama sekali kalut. Bingung dengan perasaannya sendiri.

Tanpa mereka tahu, anak kecil berambut panjang lurus berwarna cokelat, mendengar semua pembicaraan mereka tanpa ada satupun yang tertinggal.

Esok harinya, sang ibu sudah ada di ruang makan saat Kei dan Yuna turun dari lantai dua. “Selamat Pagi,” sapa sang ibu. Kei menjawab dengan anggukan, sedangkan Yuna tidak bergeming sama sekali. Ibunya menatap lesu kearah Yuna. Makan pagi itu pun dilaksanakan bertiga. Tanpa adanya sang ayah. Suasana pun dingin. Tidak ada lagi pertanyaan Yuna yang selalu menanyakan ayahnya. Hingga keheningan itu, di kejutkan oleh sikap Yuna sendiri. “Yuna sudah selesai,” ucapnya dengan ekspresi datar. Dengan cepat ia pergi ke luar tanpa mengubris kakak dan ibunya. Kei tersentak dan cepat-cepat menghabiskan sarapannya, lalu pergi menyusul Yuna. Meninggalkan sang ibu seorang diri yang menatap mereka kepergian mereka dengan keputus asaan.

TENG TENG TENG…

Bel pulang sekolah berbunyi. Di sertai tawa dan teriakan girang seluruh penghuni sekolah. Yuna melangkahkan kakinya dengan malas keluar dari kelasnya. Seseorang menyapanya, dan Yuna menoleh, “kenapa lemas seperti itu, Yuna?” Yuna memandangnya sayu, seraya menjawab, “tidak apa-apa”.

Yuna pun pergi meninggalkan anak tadi, dan keluar dari pekarangan sekolahnya menuju rumah. Baru setengah perjalanan, Yuna menoleh kesebelah kirinya. Ada sebuah taman dengan kursi kayu panjang di tengahnya. Iya tersenyum. Sepertinya tertarik untuk beristirahat disana ketimbang pulang lebih cepat kerumahnya.

Seperti ditarik, ia berjalan dengan santai ke bangku itu. Duduk dengan nyamannya. Matanya menatap kosong ke seisi jalan yang ia lalui tadi. Tapi, tidak ada yang lewat. Angin sepoi-sepoi mengusap pipinya lembut. Matanya kian lama mulai tertutup, menikmati kelembutan yang ditawarkan oleh si angin. Hingga akhirnya ia tertidur.

“HAAH! IBU….!” Teriak Yuna bangun dari tidurnya. Wajahnya pucat. Badannya bergetar hebat. Keringat mengalir di keningnya. nafasnya berderu dengan cepat. Dan jantungnya memompa darah lebih cepat dari biasanya.

“Tidak mungkin,” ucapnya dengan bibir bergetar. Seulas senyum kecut terukir di bibir kecilnya. Kemudian, bibir kecil itu tertawa perlahan dengan mata yang berair, “itu hanya mimpi…kau jangan takut, Yuna”. Dengan cepat Yuna mengusap air matanya, sekilas melirik ke jam tangannya. Sekarang tepat pukul lima sore. Ternyata ia tertidur cukup lama. Ia berpikir, pasti pulang-pulang nanti ia akan dimarahi ibu dan ayahnya.

Dengan gerakan cepat, Yuna segera beranjak dari bangku itu dan meninggalkan taman.

Dengan langkah ringan dan senyum yang tidak terlalu berlebihan, Yuna berjalan mengarungi jalanan komplek rumahnya dengan santai. Sampai, suara orang yang sedang membacakan doa, terdengar oleh Yuna. Ia memandangi dari ke jauhan tempat yang ramai itu. Awalnya matanya menyipit, setelah itu matanya melebar saat dia tahu itu adalah rumahnya.

“I-ibu…” kata itu yang pertama keluar dari bibirnya. Ia lekas berlari kecil, menuju kerumunan itu. Matanya mencari-cari sang kakak dan sang ayah. Tapi, tak ia temukan. Sampai sebuah tangan dengan lembut menyentuh pundaknya, “Yuna, kamu sedang dicari oleh Kei didalam,” ucap wanita paruh baya itu dengan lembut. Matanya menyiratkan kesedihan. Yuna kenal dengannya. Dia Tante Ui, tetangga sebelahnya. Dengan cepat Yuna berlari ke dalam rumah. Hingga, langkahnya terhenti saat di pintu utama, matanya membulat bibirnya bergetar. Ibunya sudah meninggal. jasadnya tepat dihadapannya. Sang Ayah dan kakaknya Kei menatapnya kaget, dengan cepat Kei menghampiri Yuna. Memeluknya erat sambil menangis. Sedangkan Yuna, wajahnya datar. Menangispun tidak. Dan kemudian, acara pemakaman itu berjalan dengan semestinya. Tanpa ada keraguan, penyesalan, dan kesedihan dari diri Yuna.

Setahun setelah kematian Ibunya, Yuna menjadi anak yang lebih pendiam dan penyendiri. Atau lebih tepatnya anti-sosial. Kei dan Yuna sekarang tinggal bersama ayahnya yang memiliki istri baru. Dengan sikap Yuna yang seperti itu, banyak yang mencapnya ‘Anak gila’ atau ‘Anak sinting’ bahkan ‘Autis’. Tapi, Yuna sama sekali tidak mengubris itu. Malah, Kei yang heboh saat semua orang mengejek adik tersayangnya seperti itu.

Saat Yuna berjalan dengan santai melewati taman dekat rumahnya. Padahal, taman itu adalah tempat terakhir yang ia kunjungi sebelum kematian ibunya. Tapi, Yuna sama sekali tidak menganggap itu adalah suatu masalah. Ia mendengar anak-anak sebayanya yang bermain di taman itu, saling berbisik satu sama lain. Yuna tahu yang mereka perbincangkan adalah dirinya. Tapi, Yuna sama sekali tidak memperdulikannya.

“Hei, kau tahu? Diakan anak autis yang tinggal di sebelah rumahmu, Rey?” Ucap salah satu bocah laki-laki. Bocah laki-laki lain yang dipanggil Rey itu mengangguk. Ia menjawab, “aku dengar dari ibuku dia gila karena kehilangan ibunya? malang sekali yah. Padahal dia masih kecil. Tapi sudah di tinggal ibunya. Tragis.” Mereka semua mengangguk. Anak yang lain menambahkan, “bahkan, saat ibunya meninggalpun dia tidak memangis sama sekali. Anak itu benar-benar sakit.” Dan semuanya tertawa.

Dari kejauhan, Yuna bisa mendengar itu. Ia tersenyum aneh. Wajahnya menyeramkan, “mereka itu bodoh atau apa, eh?” ia berhenti sejenak sambil terkekeh, “mereka bilang ibuku mati? mereka itu memang benar-benar sinting,” ucapnya cuek sambil kembali berjalan. Senyum di wajahnya semakin melebar, lalu ia kembali terkekeh, “bukankah ibuku ada di sini, bersamaku? Benarkan ibu?” Ia melirik kesebelah kanannya, tidak ada apa-apa disana. Ia lalu tersenyum lalu kembali berjalan, “dasar anak-anak rendahan,” bisiknya sambil berlalu. Di belakangnya wanita cantik berpakaian putih tersenyum sambil berkata, “ibu akan selalu di samping Yuna. Sampai akhir.”. Wanita itu tersenyum, dan dibalas senyum oleh Yuna. “Itu sudah seharusnya,” dan dengan tertawa riang ia kembali kerumahnya. Bersama sang ibu tercinta.

.

fin

.

Oke, ini cerita labil yang saya buat waktu kelas 2 smp haha. Saya sadar ternyata sudah sejak dulu saya suka heavy!dark theme-__- ini hanya untuk have fun tidak ada maksud tertentu fufufu~